Bagaimana bila dunia ini tercipta sempurna?
Mungkin tak perlu ada surga dan neraka.
Mungkin dunia terasa membosankan.
Selurus jalan raya yang tiap hari aku lewati.
Dan mungkin tak pernah ada kegelapan.
Hanya cahaya, yang terasa menyilaukan.
…
Entahlah, mungkin langit senja ikut memberi suasana sendu sore ini.
Dan untuk pertama kalinya, aku tak merindukan siapa-siapa.

Bila dunia itu sempurna..
July 9, 2009
Aku merindukan gerimis.
June 30, 2009Aku merindukan gerimis,
yang menemani malamku yang dingin.
Aku merindukan aroma tanah basah,
membuka kotak kenangan tentang orang-orang tersayang bersama tiap rintik hujan.
Aku merindukan langit malam yang kemerahan,
Dan aku mulai merindukan kalian semua…

Malam ini..
June 25, 2009Maaf, aku tak membalas pesanmu hari ini. Aku terlalu lelah untuk berdebat kali ini.
Malam ini, maukah kau duduk dan menikmati aroma kopi susu bersamaku? Tanpa kekesalan, tanpa penyesalan.

Kamu.
June 24, 2009Aku tak tahu,
mana yang lebih menggangguku:
Pesan berisi keluhan darimu setiap hari,
atau
ketiadaan kabar darimu hari ini.
Entahlah,
rasanya semakin kukejar, kau semakin pergi menjauh.
Mungkin kali ini, setelah aku tahu pasti apa yang terjadi, aku harus benar-benar pergi.
Tidak mengusik malam-malammu lagi.
Demi bahagiamu yang tak terucapkan.
Demi melihat senyummu lagi, yang tak tergantikan.
PS. I always pray for you,and never forget how to smile…

Pelangi di sore hari.
June 15, 2009Hai.apa kabar semuanya?
Terakhir kali aku bertemu gerimis tepat saat hari ulang tahunnya. Sejak saat itu sore hari menjadi waktu yang menyenangkan untuk menghirup udara segar.
Seorang sahabat menyadarkanku bahwa hidup tidak seburuk yang kukira.aku hanya perlu memilih:tetap bertahan dengan luka yang ada dan mungkin bertambah nanti,atau melepas lalu beranjak untuk pindah jalur.
Aku tak lagi memohon untuk sesuatu yang kuinginkan.aku hanya berkata pada Tuhan,apapun yang Dia berikan itulah yg terbaik untukku.
Seperti pelangi,setelah hujan di sore hari.semoga pelangi itu selalu muncul saat kamu merasa tak bisa bertahan lagi

Dalam gerimis.
June 9, 2009Dalam gerimis, aku mengayunkan langkahku, perlahan tapi pasti, melalui jalan menuju rumah.
Mengingat senyum yang aku bagi, cerita yang aku dengarkan, buku yang aku baca, kucing berwajah innocent, percakapan yang terjalin pada hari ini…
…dan harum tanah yang disapa hujan tengah malam itu, membaur dengan percakapan hingga jam 3 pagi.
Seperti malam itu, pekat tanpa bintang, dan kini yang tersisa hanyalah kenangan yang mulai memudar, walau rasanya masih sama.
Aku menyesal, sekaligus bersyukur untuk semua yang aku rasakan hingga saat ini.
PS. Jangan pernah lupa untuk tersenyum

Disconnect for a while.
June 1, 2009Memutuskan hubungan dengan apapun untuk sementara. Lepas dari status, lepas dari masalah, lepas dari pemikiran-pemikiran yang selalu bergumam di kepala.
Hasilnya? Damai ternyata. Percakapan tetap ada dan seadanya, tanpa harus merasa terbebani mengatakan ini-itu. Senyum dan tawa tetap ada, bahkan terasa lebih lepas dari biasanya. Tanpa getar dan suara, terbaca dan terbalas selagi ingat dan sesuka hati. Everything just fine. Sisa-sisa feromon mulai menghilang, berganti rasa menjadi rasional. Mencoba mengendalikan depresi yang setiap malam datang dan memojokkanku sendiri.
Don’t worry, everything’ll be ok…

Dengan sederhana.
May 18, 2009Aku hanya ingin menjalani hidup dengan pemikiran yang sederhana, melepaskan sedikit beban yang tak perlu dipanggul dalam perjalanan. Mencoba beradaptasi dengan kesederhanaan, menguraikan benang kusut dalam pikiran. Beristirahat saat lelah, memberi kesempatan pada tubuh untuk memperbaiki dirinya sendiri. Ini sebuah perjalanan yang panjang..
Jangan kuatir, kamu tak pernah sendiri…

Your smile.
May 16, 2009Aku mengira aku bisa melupakannya seiring waktu berjalan, tapi…
Dia tetap ada di situ, di sudut hatiku.
Melihat senyumnya lagi, adalah suatu kebahagiaan tersendiri.
Listening to: With You – Chris Brown & Stolen – Dashboard Confessional (You’ve stolen my heart, Edward.)

Datang.
May 11, 2009Hari ini, setelah sekian lama dia menghilang tanpa jejak, dia muncul di hadapanku.
Dia, yang pernah kupanggil dengan nama matahari terbit.
Dia tetap bercahaya, tapi sinarnya terasa menyakitkan. Di sudut ruang aku menyendiri, menjauhi sinarnya setiap kali mendekat. Aku tak tahu apa yg dia pikirkan saat dia melihatku, yang dingin dan membeku. Aku tak perduli, dan tak ingin perduli lagi.
Bagiku biarlah bintang-bintang penerang yang menemani malamku, tersenyum selalu, menikmati hari bahagia saat itu.
Happy bday, yis. makasih traktirannya. kadonya nyusul

