6 Februari.

Tiba-tiba baru merasa ini sudah tanggal 6 Februari. Tahun 2010. Dan aku sudah berjalan sejauh ini, setelah menoleh ke belakang, membaca kembali to-do-list apa yang ingin aku lakukan selama 5 tahun belakangan, buku-buku harian mulai dari jaman SD sampai sekarang (yang tentu saja masih tersimpan dengan cukup rapi :) ). Membaca kembali semua perjuangan yang membuatku berkali-kali terjatuh dan bangun lagi, saat-saat pahitnya kenyataan berkali-kali membuatku ingin menyerah, dan saat-saat dimana secercah senyum pun bisa melelehkan hati yang sedingin salju.

Aku menyukai kenangan yang manis, dan membungkusnya seperti permen sehingga saat aku merasa galau, aku cukup mengambil satu dan membuka bungkusnya yang secerah mentari, menikmati setiap perasaan hangat yang menyelip di sela-sela pikiranku.

Tentu saja terkadang masih ada kenangan buruk yang ingin aku buang jauh-jauh, atau menghapusnya hingga yang namanya mendadak-emosi-dan-galau-berkepanjangan tak terjadi. Semestinya aku melepas kenangan buruk seperti melepas perahu kertas ke sungai, membiarkannya mengalir dan menjauh pergi. Bukan berarti melupakan, tapi lebih pada memutuskan ikatan emosi yang menjerat di setiap langkah untuk maju. Sehingga saat tak sengaja bertemu lagi, aku bisa tersenyum, memaafkan dan berlalu tanpa merasa terbebani.

Marah, kehilangan, terjatuh, takut, sakit, mengikat kedua kakimu untuk melangkah maju. Senang, senyum, tawa, cinta, bawalah bersama sayap yang mengantarkanmu terbang. Rendah hati, syukur, kepekaan pada sesama, introspeksi diri, simpanlah di saku karena kamu membutuhkan akar untuk tetap menjejak di bumi.

Selamat menikmati akhir pekan, semoga harimu menyenangkan :)

Time.

Ya Allah,

Maafkan aku yang tak mensyukuri nikmat yang Kau beri, padahal jika aku memandang langit biru yang cerah, segala hal yang baik di sekitarku, segala hal yang masih kumiliki dan berfungsi dengan baik, sesungguhnya tak pantas aku menyia-nyiakan semua itu dan berkeluh kesah karenanya.

Lagu “Forget Jakarta” milik Adhitia Sofyan menyadarkanku bahwa sebenarnya kenyataan tidak seburuk itu. Pikirankulah yang membentuk suasana hati jadi buruk. Segalanya ada di tanganku, dan jujur saja, itu membuatku takut, sekaligus bersemangat untuk bekerja. Jika gagal, bukan orang lain atau situasi yang patut disalahkan, tapi aku sendiri yang melalaikan dan melupakan hal yang penting.

Waktu datang, bergulir, tanpa ada tekanan untuk datang lebih awal atau lebih lambat. Waktu itu sendiri berjalan, tak peduli manusia akan bersyukur atau memaki. Dan pada akhirnya, kembali pada manusia itu sendiri, akankah hanya diam, tak berbuat apa-apa dan hanya bisa mengeluh ini itu, atau bergegas mengikuti waktu itu sendiri, membuka semangat pagi dengan bersyukur dan tersenyum bahwa hari ini masih ada kesempatan untuk melakukan hal-hal yang terbaik.

Ya Allah,
Saat aku lelah, bolehkah aku bersandar pada-Mu?

tea for two. in between, a glass of water :D

this is for you.

untuk seorang sahabat, yang sedang menginjakkan kakinya di luar area nyamannya…

untuk seorang sahabat, yang selalu menguatkan di saat aku rapuh…

untuk seseorang, yang kesabarannya lebih luas dari samudra…

untuk orang-orang di luar sana yang juga merasakan rumitnya hidup…

this is for you.

nikmati setiap peristiwa yang ada, karena hidup itu seperti roller coaster…
kalo menurutku sih malah kaya spinning coaster di tempat duduk bagian belakang dengan pengaman yang longgar, dimana nyawa dipertaruhkan :p

saat kamu terbangun dan membuka mata, bukalah jendela, hiruplah udara segar di luar sana, ikuti kemana langkahmu ingin mengajakmu pergi, dan temukan keajaiban-keajaiban kecil yang mungkin selama ini kamu lewatkan.

dan saat kamu merindukan orang-orang yang kamu cintai, pandanglah langit, dan ingatlah bahwa kita masih memandang langit yang sama…

take your present, don’t regret the past, and ready for the future.

kucing belang yang aneh (campuran sapi-garfield?)

And the story goes…

Dan satu kerikil yang terlihat sebagai gunung, telah terlewati.

Bagi yang tahu, tadi pagi jam 8 saya melaksanakan ujian akhir (kompre). Setelah melalui puluhan malam dengan insomnia dan tidur lebih awal, puluhan malam bersama angka-angka yang tidak saya mengerti, berkali-kali konsultasi, dan berulang kali depresi, akhirnya tadi pagi tiba waktunya.

Dihancurkan, masih bisa tertawa, walau dalam hati menangis. Perjalanan masih panjang, dan tidak menutup kemungkinan revisi ditolak lagi sebelum pada akhirnya disetujui. Mengejar ketertinggalan, membayangkan 2 pekan dengan jadwal yang penuh, sudah membuatku lelah terlebih dahulu.

Hari ini mari kita bersenang-senang dahulu, seakan-akan tiada esok hari. Besok kita mulai hari baru, dengan semangat baru (dan bekerja lagi di akhir pekan). Selamat malam, selamat menikmati secangkir teh tarik hangat :)

NB: galau melanda. “The Lovers” memberi pertanda. Dan aku ingin jadi teleskop Hubble, terbang tinggi menembus atmosfer, lepas dari kepekatan perasaan yang begitu kental, hingga nyaris membuatku hancur lagi. Tuhan, kuatkan aku selalu…

Dalam secangkir teh mint.

Memandang langit dari balik jendela, mendung dan sesekali gerimis turun. Bersama secangkir teh mint, lupakan sementara isi laci yang berantakan, benang yang kusut, jahitan yang tak terselesaikan, caci maki orang-orang dalam imajinasi, tekanan yang tak terlihat, galau yang tak tuntas, dan remah-remah pikiran yang berserakan.

Dalam secangkir teh mint, hangatnya air putih bersanding dengan dinginnya aroma dan rasa mint. Ada galau, senyuman, air mata, pertemuan, perpisahan, kesepian, kerinduan, cerita yang dibagi bersama. Mengudara dalam aroma mint dan udara sehabis hujan di sore hari.

Terima kasih untuk kiriman buku dan tehnya, telah datang di saat yang tepat :)

Firasat (?)

Saat aku di kos teman, malam ini aku ingin cepat pulang. Tak perduli ada yang jemput atau tidak.
Dan kemudian yg terjadi adalah:
Ibu dan orange boy tidak membalas sms.telpon tak dijawab.baju masih basah kena hujan.sandal yang tadi dipinjam teman ngumpet di bawah payung.pintu kos yg biasa tak terkunci,malam ini dikunci.sandal putus.sinyal mati suri.kehujanan.baru dapat angkot setelah separuh perjalanan.dapat kabar adek sakit.

Tuhan,adakah Kau mencoba menyampaikan sesuatu?

Kemarau Berganti Hujan.

Tuhan,

Terima kasih untuk hal-hal yang menakjubkan hari ini.

Kerja keras yang terbayar, pertemuan dengan seorang sahabat, melakukan hal-hal yang menyenangkan, berlindung dalam ruang dan mengintip dari balik jendela, badai datang dan pergi begitu cepatnya.

Bergelung dalam ruang bersama secangkir teh ceri yang hangat, sepiring nasi goreng, sekotak kudapan ringan, tak lupa laptop dan internet yang selalu menyala.

Walau kerinduan itu masih membayang.

Tapi kerinduan itu terbayar pada saat malam datang.

Bersama secangkir teh tarik hangat, kau dan aku tertawa, berbicara, mendengarkan, memandang kenangan yang terekam digital, menyanyikan lagu-lagu yang kita sukai, dan pada akhirnya bersama kita memandang bulan yang bulat tak sempurna.

Kemarau 3 pekan, dihapus dengan hujan semalam. Bersama dengan seseorang yang duduk di sampingku, bersama senandung lirihmu saat menyanyikan ”When You Love Someone” (Bryan Adams).

“…When you love someone you’ll feel it deep inside
And nothin’ else can ever change your mind…”
(When You Love Someone – Bryan Adams)

2010

Tahun baru ini aku lalui dengan sederhana: tidur pada pukul 10 malam setelah membaca novel dan terbangun pada pukul 12 malam saat mercon, kembang api menjadi penanda pergantian kalender dari tahun 2009 ke 2010. Aku melihatnya dari balik jendela, percikan bunga api berwarna-warni menghiasi langit malam yang terang sehabis hujan seharian. Aroma hujan masih tersisa di udara, menyatu dengan bisingnya mercon dan kembang api yang dibakar, bercahaya untuk sesaat, dan pada akhirnya habis jadi arang dan debu. Walau sesaat, namun cahayanya tetap dikenang sebagai salah satu yang terindah. Mungkin itulah mengapa kembang api masih tetap menjadi favorit bagi anak-anak dan orang dewasa di pesta-pesta besar seperti ini.

Beberapa orang mengirimkan pesan bahwa mereka sedang mengadakan pesta dengan teman dan rekan kerjanya. Aku tersenyum, mengingat pergantian tahun yang aku lakukan tahun kemarin, bersama teman-teman mengadakan pesta ayam bakar, ikan bakar, tak lupa lalapan dan sambal, ditambah sekotak besar roll cake yang menggiurkan, dan tepat pada jam 12 kami meluncurkan mercon yang ditempeli kertas berisi resolusi kami di tahun baru. Kami bersenang-senang, ramai-ramai memanjat pagar melihat kembang api yang diselenggarakan tempat lain, ada yang salto di jalan, menyalakan berbagai macam kembang api, dan akhirnya terkapar setelah kekenyangan menghabiskan semuanya.

Setelah melihat kembang api dari balik jendela, aku duduk dan menulis kepada-Nya, untuk hari yang lebih baik dari sebelumnya, harapan yang tak pernah layu, kekuatan dalam menjalani hidup, dan mampu mewujudkan mimpi-mimpi yang tertulis dalam notes di dindingku. Mungkin ada yang menganggap orang yang membuat resolusi itu adalah orang yang bodoh, tapi buatku orang yang bodoh ini masih punya mimpi untuk mengingatkan bahwa dia masih punya tujuan yang ingin dicapai. Lebih baik ada daripada mengikuti arus tanpa tahu kemana dia berlabuh, bukan? ;)

Selamat tahun baru, selamat membuat harapan baru. Semoga setiap harinya kita bisa lebih baik dari sebelumnya :)

pinjam fotonya ya kawan :D (sebuah festival kembang api di Jerman – by Lilyt)

back to habitat. ASAP!!

161209

Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama mendadak-metal (mellow total) dan berkutat dengan diri sendiri, seperti anjing yang mengejar ekornya (dan ga dapet-dapet juga ekornya), aku kembali pada penulisan yang pernah aku gunakan tahun 2004 dulu: bodoh, sederhana, tapi karena kesederhanaannya aku tak kesulitan memahami diriku sendiri. seperti meneguk air putih, sebegitu mudahnya. Tanpa tambahan pewarna atau pengawet apapun.

Malam ini, seperti biasa, bila aku merasa terperangkap dalam pemikiranku sendiri dan suara-suara di dalam pikiranku mulai mengumpat satu sama lain, maka aku harus keluar dan mencari ketenangan. Kemana kakiku melangkah? Yang pertama cari pulsa, tentu saja. Berjalan kaki menjelang malam, apalagi sendirian cukup beresiko untuk seorang perempuan (digodain, disapa orang ga dikenal…Jadi berhati-hatilah, hindari jalan setapak yang sepi dan tanpa penerangan. Manusia lebih seram daripada setan). Tapi aku nekat, hanya Tuhan yang tahu kenapa. Aku menuju tempat yang sering aku kunjungi, dimana aku bisa menikmati segelas teh tarik dan sepiring roti panggang sendirian, tanpa merasa canggung dan kesepian. Bagiku, buku dan pensil sudah cukup untuk menemaniku. Menuliskan perasaanku, menguraikan benang kusut dalam pikiranku, dan menuliskan jadwal untuk besok membuatku bisa sedikit bernapas lega. Memang tak memberikan solusi, tapi setidaknya aku tahu mengapa aku begini.

Ketakutan yang selama ini aku halau dengan pemikiran menguatkan diri, ternyata efek penyembuhannya tak berlangsung lama. Seperti membohongi diri sendiri, berpendapat semua baik-baik saja, padahal tidak begitu adanya. Jadi aku membiarkan dia datang, menari, dan berlalu, mewujudkan dirinya menjadi sesuatu yang lain. Menjadi kepasrahan yang bukan sekedar membiarkan begitu saja. Menjadi energi yang memberi kekuatan untuk berusaha, dan menyerahkan hasilnya pada Yang Lebih Berkuasa. Seperti menetralkan diri, tak terlalu asam atau terlalu basa, sehingga mudah untuk menerima apa yang ada.

Quote of the day (especially for those thinkers outside):

“Think less, act more.”

Sometimes selfish and impulsive isn’t that harmful :)

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

senja yang masih membiru