Di Persimpangan Jalan
July 27, 2008
Pagi ini, aku menemukan buku-buku berisi catatan kehidupan di masa lalu. Ya, diary berupa binder yang udah ga muat lagi karena terlalu banyak catatan di dalamnya, yang pinggirannya udah mo lepas (dulu aku isolasi malah. Sindrom malas beli binder baru. hehehe).
Saat aku membukanya, seperti kotak memori, semua berhamburan dan menyergap pikiranku, membangunkan kenangan masa lalu yang tersembunyi di balik ketidakpedulianku di masa sekarang. Ada catatan dari teman-teman seperjuangan di SMA, keluh kesah, senang sedih, saat-saat pelajaran yang membosankan sampai ditinggal main poker di belakang kelas, dan sejuta kenakalan masa SMA, catatan e-mail dan blog yang harus dikunjungi, kenangan tentang kakak kelas yang benci-benci rindu, kenangan tentang sahabat yang jadi pacar pertama..hmm gimana kabarnya sekarang ya?
Mengapa tiba-tiba aku ingin membuka catatan itu?
Mungkin karena beberapa hari yang lalu, aku bermimpi tentang seseorang yang tidak terduga. Yang aku kira sudah tidak ada cerita lagi tentang dia.
Cinta pertamaku dulu. Yang sepertinya berulang tahun hari ini (sepertinya? entahlah, aku juga hilang ingatan :p)
Berpijak dari sini, aku melihat teman-temanku yang sudah berpencar menuju jalan yang mereka pilih.
Teman-teman yang sekarang lagi PKL di luar kota. Seorang adek dan sahabat yang sekarang melanjutkan kuliah di Jerman. Seorang teman yang dulu kuliah sastra Jerman di Malang katanya September ini juga mau berangkat ke Jerman. Senior yang baru datang dari Swiss. Teman-teman IAAS yang ikut World Congress di Belarus (sudah pulang belum ya?). Seorang teman yang ingin sekali melanjutkan kuliah tetapi karena keterbatasan dana, memilih untuk menjadi penjaga toko.
Semua orang memilih jalannya sendiri. Apa yang aku lakukan sekarang? Aku malah duduk di sini, mengenang manisnya masa lalu, merenung mengapa semakin bertambahnya usia bukannya semakin dewasa malah semakin mengalami kemunduran pemikiran, masih bersikap tidak peduli akan masa depan. Aku berada di persimpangan jalan, antara beranjak dari tempat dudukku sekarang, atau tetap di sini, mempersiapkan bekal bila kesempatan itu datang. Entahlah, jalan mana yang akan aku pilih.


July 27, 2008 at 5:46 am
hore gw yg pertmax
malas itu sindrom ya?
kok lom tau.
jangan jangan gw juga dah tertular sindrom itu?
soalnya hari ini malas banget
July 27, 2008 at 5:47 am
sudah nge blog dari tahun 2004 ya
wehhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
uptodate banget ya ternyata
July 27, 2008 at 8:32 am
Pilih jalan kebaikan dan misterinya. kebaikan selalu memancar keseluruh penjuru seperti cahaya, dan tidak perlu kau perhatikan dan kau hitung, karena telah memancar.
July 27, 2008 at 11:53 am
kadang perlu koq waktu utk mengenang masa lalu. pasti ada hikmahnya mengenang kembali.
July 28, 2008 at 10:32 am
Umur hanya masalah angka tapi menjadi dewasa tuach mutlak (katanya Getoo,, menurut kamu gmn???)…
Aku suka merenung tapi bukan menung,, hampir sama seach tp maknanya jauh berbeda…
teman2 aku juga lagi PKL & ada juga lagi KKN,, satu hal yang pasti merenung itu asik…
July 29, 2008 at 7:50 am
wah .. masa lalu ..:)
semua memang harus memilih jalan dan berusaha ..
so shalat istikharah aja ..
Jangan lupa kunjungi blog saya satunya ..
Deconlabel WordPress
July 30, 2008 at 7:08 am
Jika aku berada di persimpangan jalan, kutengok dulu apakah ada polisi disana sedang patroli…dan jika lampu sudah berwarna ijo…segera kaburrrrr..!!!
July 30, 2008 at 2:27 pm
walah…semakin lama semakin mellow adik gue yang satu ini *elus jilbab*
cinta pertamamu yang itu yak? *ngais2 memori* huekek…anyhoo yang namanya diary itu emang enag banget kalo udah berlalu cukup lama baru dibuka2 lagi. sama deh tabiat kita *toss* jadi inget tulisan,
“hari ini aku memutuskan GIANT…keluarga pada perang”
hekekeke… atau
“happy b’day patrick
”
yah yah yah… bikin novel aja sekalian diary-nya, dek *saran bijak* hakakakak ;p
July 31, 2008 at 8:05 am
salam kenal
lagi BW negh