My Chaotic World with Toy Camera

Apa yang saya cari dan dapat dari toycam? Unsur kejutan yang tak bisa didapat saat menggunakan kamera digital atau software. Namanya juga hobi, walau mahal dan tidak praktis pasti dilakoni juga. Sama seperti penggemar model kit gundam atau action figure. Kalo orang awam ngeliat, buat apaan itu? Ribet, mahal, ujung-ujungnya cuma buat pajangan. Tapi namanya juga cinta, selalu ada alasan kenapa orang menggemarinya. Mereka melihat dari sisi lain yang orang awam tak bisa lihat. (8 Juni 2011)

Berbekal dari rasa penasaran, kesukaan pada fotografi dan hal-hal analog, sekaligus akibat budget terbatas dan lemahnya kemampuan dalam bidang edit foto digital, membuat saya untuk mencoba sesuatu yang terdengar aneh tapi seru : toy camera. Sengaja saya gunakan istilah ini dan bukannya lomography karena lomography adalah merk dagang, sodara-sodara! Lagipula kamera saya bukan merk lomography sih maklum ga bersahabat sama kantong .

Setelah browsing sana-sini, saya bertemu dengan online shop di Malang yang jual toy camera *horee ga usah pake ongkos kirim!* dan memilih si Roboholic. Nama aslinya adalah Disderi 3 Lens, memakai roll film tipe 35 mm (biasa dijual di studio foto), tanpa flash, ga ada pengaturan macem-macem (point and shoot), dan karena bodinya full plastik jadi enteng dibawa main kemana-mana. Katanya Pak Bos ini kaya mainan anaknya :D

Name: Disderi (Robot 3)

type: 35mm without flash (roll film yang biasa dijual di studio foto. ga ada flash jadi kalo motret di dalem ruangan/mendung/kurang terang dan ASA roll filmnya kurang dari 800 biasanya burem atau ga jadi :| )
lens: optical lens, f/8 28mm

shutter: leaf shutter, speed 1/100 sec
film to be used: 35mm asa 100 ~ asa 400 (color or black/white)

dimension: 95*63*33 mm
weight: 90 gr (enteng!)

Kamera ini saya bawa kemana-mana, mengitari kampus, kondangan ke Pasuruan, kondangan ke Trenggalek, liat Malang Tempo Doeloe, ikut makan-makan di Waduk Selorejo, wisuda teman-teman atau sekedar menikmati es krim bersama sahabat. Tak hanya itu, saya juga iseng-iseng mencuci scan film di pocket camera jaman SMA yang sudah expired sekitar tahun 2005, dan ternyata masih bisa dilihat bahkan efek vintagenya cukup yahud! Oleh karena itu, Roboholic jaga rumah, dan giliran Premier BF-650 yang ikut jalan-jalan. Masih kamera analog point and shoot, dengan baterai untuk flash-nya. Berbekal roll film redscale dan semangat bersenang-senang dengan tema “Have Fun with Friends“, saya kembali bergembira dengan warnanya yang terkesan oldies.

Membuka album foto seperti ini seperti membuka kotak hadiah yang penuh dengan permen warna-warni :)
Note – bagi yang berdomisili di Kota Malang:
  1. Untuk menghemat, cuci scan tanpa CD (langsung transfer ke flashdisk) bisa di Sari Indah Studio Foto (depan Dunkin Donuts, Jl. Jaksa Agung Suprapto 73, sebelahnya Cor Yesu). Bulan lalu cuci scan disitu cuma habis Rp 16.500,- (padahal biasanya di Eternity cuci scan + CD habisnya Rp 27.000,-)  tapi ga terima film B/W sih…
  2. Untuk cuci scan film B/W masih belum nyari dimana, tapi terakhir kali cuci cetak film B/W di Foto Adi di Jl. Borobudur. Ongkosnya lumayan sih, per lembarnya 1,5x lebih mahal dari biasanya
Kisaran harga roll film : Lucky B/W ASA 100 (Rp 12.500,- di Pantai Foto Borobudur), Superia ASA 400 exp 2008 (Rp 20.000,- di alun-alun), Kodak Color Plus 200 Redscale (Rp 20.000,- di Lilo Creebo Shop), Konica Centuria 200 exp 2010 (Rp 15.000,- di Lilo Creebo Shop), Fujicolor Superia 200 (Rp 20.000 – Rp 25.000,- tergantung tempatnya).
Kalo penasaran sama kamera-kamera kaya gini, bisa baca-baca di Crazy Toycam Online Magazine, KoeliTinta, dan Klastic. Album foto saya bisa dilihat di flickr.
Daaann… sampe sekarang mimpi saya untuk memiliki Holga 135 BC atau Diana Mini masih belum kesampaian… Ada yang mau jadi Santa Claus buat saya?

11 thoughts on “My Chaotic World with Toy Camera

  1. itacasillas says:

    *ngacungin tangan! saya siap jadi modelmu El,,kapan kita ketemur?? :D

  2. Baru tahu malah kalau ada yang begini. Jadi penasaran… kira-kira bagus gak buat dipakai nggantiin kamera saku yang sehari-hari? :)

  3. Kurology says:

    sudah niat pengen beli lomo, tapi ternyata toko kamera langganan ga jual. kurang “menjual” katanya :[

    belakangan lagi males jeprat-jepret, meski sempet pengen pas temen beli lensa Tamron 70-300mm dengan harga mayan terjangkau (seenggaknya enggak perlu dibeli dengan menjual sebelah ginjal :lol: ).
    sempat bersemangat lantaran mengira harga lensa Tamron lebih muyah, tapi akhirnya mental lagi lantaran lensa makro 60mm merk Tamron yang saya cari harganya almahali :[

  4. uthie says:

    aku kepengen Fish Eye dari dulu.
    dan Instax.
    tapi baru beli DSLR. main-main sama Tony dulu deh, dipuas-puasin. :p

  5. bensdoing says:

    sya baru tahu banget nich perangkat yg beginian :-)
    btw itu hasil ‘shoot’ nya spt foto jadul ya :-)
    salam kenal dan salam persahabatan !

  6. awitara says:

    berapa harga toy cameranya …
    di Bali ada gk kra2,,
    yang diats toe, hasil fotonya yah..keren juga :)

  7. Ms. Plaida says:

    http://chocogreentea.files.wordpress.com/2011/12/img_0012.jpg

    wow, foto yang itu kesannya tua banget. sekilas saya mikir itu mirip poto dukumentasi dari kegiatan ekskavasi Candi Borobudur jaman dulu.. keren!

  8. Petz says:

    hasil tembakannya berasa vintage semua yak :mrgreen:
    jangan2 faktor usia neeh #eh

  9. arm says:

    punya fisheye lomo, baru dipake 2-3 kali :P

    toy camera macem ini kendalanya itu males cuci cetak hasilnya, lumayan kerasa kalo sering-sering :P

  10. evillya says:

    @ita : ide bagus. ingatkan aku kalau kita ketemu ya :)

    @Ahmad Alkadri : selamat mencoba! sering bereksperimen untuk dapet hasil yang memuaskan :)

    @kurology : itu lensa yang mahalnya sama kaya kameranya ya? walau ga sampai menjual sebelah ginjal, tapi mungkin butuh jual organ yang lain ya :p

    @uthie: tony dipasangi lensa fish eye bisa kan? tapi ga tau lagi sih harganya…

    @bensdoing : efek jadulnya dari roll filmnya sih. salam kenal :)

    @awitara : disderi saya beli waktu itu sekitar 140ribuan…sekarang sih 130ribu sih. saya kurang tahu kalo di Bali, tapi coba cari di online shop.

    @Ms. Plaida : LOL foto hitam putih memang maknyus untuk foto-foto yang menyajikan cerita dan bukan efek visual semata.

    @Petz : DILARANG BAWA-BAWA FAKTOR U!! *emosi :) )

    @arm : daripada nganggur sini saya pinjem, udah lama kepingin fish eye *LOL* cuci scan aja, lumayan mengurangi biaya nyaris 50% dibandingkan cuci cetak (tapi hunting dulu studio foto mana yang murah :p)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.