The Butterfly Effect

Only Ellya. And her small world

Nightmare.again. March 5, 2008

Filed under: Life o Life!, angry, kenyataan perasaan, nightmare — evillya @ 1:15 pm

Kali ini sepertinya mengacu pada kondisiku akhir-akhir ini. Kelelahan tanpa sebab yang jelas (jelasnya banyak berpikir), pikiran kacau, mudah emosi, dan tugas-tugas yang melimpah tapi tak sanggup untuk bilang tidak.

Jadi ceritanya aku disuruh orangtuaku membeli sesuatu-entah-apa-tu di lokasi yang lumayan jauh (sekitar kampus). Aku dibekali sepeda motor matic (yang bisa aku pakai, walo belom ahli :p). Trus tiba-tiba muncul Sophia Latjuba (ga tau gimana caranya ko ada orang ini :p) yang mau pinjem sepedaku itu, dituker sama sepeda motornya yang bukan matic. Tanpa banyak basa-basi dan aku belum sempat bilang tidak, dia sudah kabur duluan bawa sepedaku. Bimbang harus memilih antara bawa sepeda motor yang ga jelas ntar nasibnya, atau naik angkot padahal da malem (yah saya kan angkoters :p), aku putuskan yang kedua.

Dalam perjalanan ke tempat biasa aku nyegat angkot, aku bertemu sahabatku. Dia meminta tolong untuk menjagakan anjingnya yang super galak-tampang anjing herder untuk jalan-jalan. Dia sendiri terlihat sangat sibuk dan kacau. Aku yang tak bisa berkata tidak (padahal aku ga begitu suka anjing. Suka liatnya, takut ndeketinnya) pun mengajak anjing itu jalan-jalan. Dicakar (emang kucing?), digigit, dsb menjadi makanan utama. Tapi aku tetap gigih dan membelainya walau aku digigit (padahal terakhir digigit hewan adalah saat digigit hamsternya Mbak Fa *kedipz*). Setelah mengajaknya jalan-jalan, aku kembalikan ke pemiliknya.

Di tempat nyegat angkot, aku bertemu dengan pengemis yang abis dimaki-maki orang (aku lupa alasannya). Karena kasihan, aku berikan uang itu. Padahal itu adalah ongkos aku untuk pulang-pergi.

P ada akhirnya, karena tak ada uang dan sudah kemaleman, aku putuskan kembali ke rumah, dengan tangan kosong.

Sounds similar? Inginnya bertingkah seperti malaikat, menerima tugas tanpa mengeluh, mengerjakan semuanya dengan baik, dan tetap tersenyum. Tapi nyatanya orang-orang pada ngelunjak minta dibuatin ini-itu, hal-hal yang sepele, karena kamu tidak bisa bilang TIDAK.

Hal-hal yang kecil dan sepele lambat laun menjadi beban di pundak dan di pikiran, terutama dengan bodohnya kamu sering menunda-nunda pekerjaan satu demi pekerjaan yang lain. Dan ketika pekerjaan itu ga beres, mereka akan menyalahkan dan menganggap betapa tidak becusnya kamu.

Aw. That’s hurt, anyway. Mungkin ada yang bilang, “Lo ko cengeng banget sih? Kenapa ga bisa nolak pekerjaan itu kalo ga sanggup? Kenapa lo cuma bisa ngeluh tapi pekerjaan lo ga becus? Ngaca dong ngaca!!”

Aw. Itu lebih menyakitkan lagi *nyengir*

 

Sebenarnya… August 31, 2007

sebenarnya banyak hal yang terjadi selama seminggu ini (tentu saja). Konflik demi konflik terus terjadi, sampai-sampai saya yang dari awal ga beres semakin ga beres…

Konflik yang terjadi, terutama dengan orang-orang dimana saya bergabung di dalamnya. Perbedaan persepsi, penangkapan kata-kata dan body language, ditambah  dengan kebodohan dan ketidaksensitifan saya, menjadi sesuatu yang bisa dikatakan chaos (bagiku).

Bahkan untuk hal-hal kecil sekecil plasmid bakteri bisa jadi segede Godzilla di tangan orang-orang yang ga beres. Air dingin buat kopi, gelas-gelas yang numpuk di wastafel, buku yang belum dibaca, sampai acara Open House besok yang bikin panitia pada migren*.

Oya jangan lupa dateng ya besok Open House Unitas mule jam 8 pagi sampe jam 14:30 di lapangan Rektorat UB. Acaranya seru loo… rugi kalo ga dateng! (promosi mode ON) :D :D

* migren karena ada aja yang mbambet misalnya kerja saya yang lambat :p (bikin panitia laen jadi migren beneran~)

NB : tadi sore aku denger ada yang nyanyi Matraman-nya The Upstairs. Apakah mereka benar-benar The Upstairs, atau orang-orang yang menyanyikan Matraman (persis banget soalnya) ataukah saya hanya berhalusinasi…?

 

Angry August 17, 2007

Filed under: Life o Life!, angry, hari pembebasan, kenyataan perasaan, pencinta kampus — evillya @ 9:12 am

Seperti kata Aristoteles, melampiaskan marah itu mudah, tapi marah pada orang yang tepat, situasi yang tepat, waktu yang tepat itu sungguh tidak mudah…

Dan marah yang dipendam itu sama saja menyimpan gunung berapi dalam diri sendiri, bisa menyebabkan penyakit psikis yang bisa mempengaruhi munculnya penyakit fisik juga…

Seminggu ini memang full of pressure, baik auto-pressure (liat postingan sebelumnya) maupun invisible-pressure dari luar. Ya bikin marah (tapi cuma bisa dipendem), sedih, sebel dsb. Efeknya ya gini, kadang2 bengong ga jelas, uring2an sendiri…

Padahal sebenarnya kalo ditinjau dari sudut pandang lain, ada jalan keluarnya kok. Hanya saja, memang butuh kesabaran ekstra dan ketegaran lebih untuk menghadapi semua ini. Dan tidak semua kritik itu menghancurkan. Tapi kok ya tetep aja, kritik yang membangun itu masih bikin ati panas?

Ternyata aku belum dewasa dan belum (cukup) tegar… Aku belum bisa menjadi bola pingpong yang semakin ditekan malah semakin kreatif dan bangkit menjadi yang lebih baik. Semoga saja dengan semua pengalaman ini aku tak jatuh lagi untuk yang kedua kalinya…

NB : Dirgahayu Republik Indonesia… Duh saking banyak pikirannya sampe lupa kalo sekarang udah tanggal 17. Hiks. Ingetnya ya waktu tadi pagi kok ada nasi kuning lengkap dengan hidangannya :p