Break My Heart
October 19, 2007

Selama ini aku mengira, hubungan masih bisa dipertahankan bila kedua belah pihak masih mencintai. Tapi aku melupakan sesuatu, variabel yang mempengaruhi mereka dan pemahaman mereka sendiri akan penting tidaknya suatu hubungan untuk dipertahankan.
Matinya suatu harapan secara tiba-tiba memang pedih rasanya…
image from here
Just wanna say…
May 23, 2007
I’m ok. Altough it’s hurt, and you turn my heart into pieces. I’m ok (altough deep inside, I’m not ok)
Ternyata hatiku benar
Cintamu hanyalah sekedar tuk sementara
Akhirnya kita harus memilih satu yang pasti
Mana mungkin terus jalani cinta begini
Karena cinta tak akan ingkari
Takkan terbagi
Kembalilah pada dirinya
Biar ku yang mengalah
Aku terima…
(Cinta Begini – Tangga)
sakit hatiku yang kesekian kalinya
aku berharap ini bukan nyata
aku dan kamu
menangisi pedih
namun kita tetap
mencoba berdiri
cinta kita
berbatas keadaan
kucoba tuk hapuskan
meski tak bersama
namun tetap di jiwa
maafkan
terlalu cepat kuhentikan
terima kasih
kau mengerti dan menerima…
(Cinta Berbatas Keadaan – Tangga)
Terima kasih, karena kamu telah jujur, walau itu menyakitkan. Terima kasih, karena ternyata apa yang aku rasakan tidak bertepuk sebelah tangan. Terima kasih, atas waktu yang kita lewati bersama, atas setiap kasih sayang yang kita bagi, atas setiap canda tawa dan air mata yang pernah ada. Terima kasih, kamu telah menjadi bagian yang berarti untukku, walau pada akhirnya seperti ini…
NB : maaf bila jarang blogwalking, saya sedang dalam kondisi sangat kacau (baik jadwal, maupun kondisi hati saya). Gomenasai…
The Difference
May 18, 2007
Perbedaan.
Bisa menyatukan, tapi bisa juga menghancurkan.
17 Mei 2007. 10:42 pm.
Mpir, you’re the heart-breaker.
And a piece of puzzle in my life.
Sayonara.
NB : Ada lagu yang pas buat broken heart? huhuhu.

