Heart.beat
November 18, 2008
Aku kira aku sudah lupa bagaimana rasanya detak jantung. Setelah minggu lalu ujian dan cukup dihabisi.
Tapi hari ini berbeda.
Detak jantung bergerak cepat yang diikuti dengan tangan yang mendadak dingin dan wajah memerah, dan rasa tidak sabar menunggu sesuatu yang sedikit berlebihan.
Dan aku bertemu dia. Di dunia maya. Bercanda dan tertawa seperti biasanya. Syukurlah dia tidak melihat wajahku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya melihat wajahku yang bersemu merah bersembunyi di balik emoticon tersenyum dan gurauan-gurauan sinting.
Ah. Tapi sepertinya dia akan tahu. Gawat, waktunya menyiapkan topeng baru. Jangan sampai dia tahu. Bahwa detak jantung ini berdenyut lebih cepat saat dia muncul. Ah, reaksi tubuh memang tidak bisa dibohongi. Walau aku benci mengakuinya dan selalu mencoba menjauhinya.
Ah. Aku hanya bisa berdoa: Tuhan, berilah aku kekuatan untuk bisa menemuinya. Jangan biarkan aku terseret masa lalu dan mengulangi kesalahan untuk kesekian kalinya. Amin.
Mungkin itu kamu.
October 28, 2008
Setelah beberapa lama tenggelam dalam tugas setiap hari, minggu ini sudah mulai UTS. Mengurus ujian PKL cukup menguras tenaga dan pikiran juga. Belum lagi rapat beberapa kali seminggu di unit. Setiap malam terkapar di tempat tidur, padahal jam masih menunjukkan jam 8 atau 9 malam. Namun ada satu hal yang membuatku sadar akan sesuatu. Bahwa segala ketakutanku berasal dari pikiranku sendiri. Terkadang tak semuanya indah, tapi seringkali apa yang aku takutkan tidak terjadi. Padahal sebelumnya, akibat stres dan capek berkepanjangan, gangguan liver datang lagi. Alhamdulillah sekarang udah agak mendingan.
“Let it flow laa… Tak ada yang pasti, semua datang dan pergi…”
Itu yang aku tulis di shoutout FSku. Entah ada angin apa tiba-tiba seperti itu. Mungkin karena beberapa waktu lalu, pikiran dan perasaan seperti diterbangkan angin selatan, berputar-putar dalam badai, sampai kemudian ditempatkan di suatu tempat tak bernama. Tersesat, dan seringkali terjungkal karena tidak menginjak tanah. Melepaskan sesuatu, ternyata tidak semudah berbicara. Menunjukkan diri sendiri, seringkali hanya dalam angan-angan, terbungkus ego dan gengsi. Seringkali aku membutuhkan telinga untuk mendengarkan dan memperhatikan, bahu untuk menangis, genggaman tangan untuk menenangkan, dan pelukan untuk menguatkan. Tapi itu berarti aku harus menunjukkan kelemahan diri yang tak aku inginkan. Maka sekali lagi, aku menyimpan semuanya rapat-rapat, dan mengunci pintu. Tak semua orang bisa membukanya, hanya orang-orang yang bisa menerima aku apa adanya yang memiliki kuncinya. Mungkin itu kamu.
…When you walk away I count the steps that you take
Do you see how much I need you right now…(When You’re Gone – Avril Lavigne)
Ingatkah kamu…
September 21, 2008
Ingatkah kamu, kapan terakhir kalinya kamu melakukan hal-hal yang spontan terlintas di pikiranmu?
Aku tak ingat, tapi selalu ada saat-saat dimana aku keluar dari jalur yang aku tempuh dalam sekejap mata. Misalnya dulu suatu ketika, aku yang berencana langsung pulang ke rumah, tiba-tiba ingin makan fast food. Seketika aku mampir ke suatu resoran fast food, sendirian. Mungkin ini bukan hal yang aneh bagi orang lain, tapi bagiku ini suatu penyimpangan bagi aku yang selalu merencanakan apa dan kemana aku melangkah. Ditambah lagi aku bukan orang yang terbiasa dengan suatu hal yang baru dan tak direncanakan. Baru aku sadari artinya sendiri saat itu.
Begitu juga semalam. Setelah lelah menatap layar monitor nonstop 6 jam (maen game online), waktu sudah menandakan jam setengah tujuh malam. Biasanya aku minta dijemput atau minta bantuan dari orang lain, tapi kali ini aku ingin sendiri. Maka pulang dari warnet, aku naek angkot dan berjalan sendiri, lewat kampus (cari tempat yang agak ramai dan terang), melewati jembatan Sukarno-Hatta, melewati para pengemis, penjual jagung rebus, rumah kosong tak terawat yang berdampingan dengan vihara yang megah seperti istana, sambil menatap langit malam itu. Berpikir akan kemana aku akan melangkah…

“…di dunia ini, banyak orang yang tidak bisa langsung ke tempat tujuannya, tapi mampir ke suatu tempat dulu. Walaupun bagi yang melihatnya tampak seperti tersesat, sebenarnya itu adalah saat-saat yang penting baginya.”
The Wandering Class - Mariko Nagahara
Menanti Sebuah Jawaban.
September 10, 2008
…tiba-tiba paranoid. Mencari jawaban atas sebuah pertanyaan besar. Tidak ada yang absolut, kecuali Sang Pencipta itu sendiri.
Kadang aku bertanya, mengapa tidak ada jawaban yang pasti?
Mengapa selalu ada abu-abu di antara hitam dan putih?
“Aku, kamu, dia, mereka.. mungkin adalah manusia yang mengenakan topeng dimana-mana.
Dari luar kelihatannya baik, bersih, tapi itu hanyalah topeng. Dalamnya hanya kita sendiri yang tahu.”
(Aku benci mengakuinya, tapi itu terlalu benar untukku. Quotes by The Heart-breaker)
Last, aku ingin berbagi lagu yang tepat malam ini.
(Mengapa) kau harus datang disini
(Malam ini) tak bisa ku hindari
(Maafkan) bila kumenafikanmu
(Bukan saatnya) dan bukan waktunya(Jangan Datang Malam ini – Padi)
Life can be like a roller coaster
August 17, 2008
“” Life can be like a roller coaster…
And just when you think you’ve had enough,
and your ready to get off the ride and take the calm, easy merry-go round…
You change your mind, throw you hands in the air
and ride the roller coaster all over again.
That’s exhilaration…that’s living a bit on the edge…that’s being ALIVE.”
Yap, sesaat aku mengira hidupku akan begitu-begitu saja, tapi sesaat kemudian dunia seakan-akan jungkir balik di depanku. Beberapa hari yang lalu, Bapak masuk rumah sakit. Aku langsung ke sana dengan meminta bantuan seorang teman. Sampai di sana, aku melihat Bapak tergolek lemas, di lengannya dipasang selang infus. Ibu sendiri ada di sana menunggu di sampingnya. Kemudian aku bersama temanku pergi keluar beli titipan Bapak. Sabun mandi, minyak kayu putih, dan… bubur ayam! Sampai di RS, aku ditelpon my sunshine. Senang bercampur lega rasanya mendengar suaranya…
Kemarin, Bapak sudah mulai baikan. Selang infusnya juga sudah dicopot. Aku menghubungi my sunshine, menanyakan dia minta hadiah apa (karena minggu depan dia ulang tahun).
Setelah itu, entah kesambet setan apa, aku menghubungi the heart-breaker. Aku memintanya untuk menemaniku cari kado untuknya*. Dasar pemikiranku adalah seleraku dan seleranya sama atau istilahnya selera “distro”. Ternyata dia menyanggupi untuk mengantarkanku Sabtu Malam. Sounds weird, ga biasanya dia yang tiap weekend pulang ke negaranya**. Tapi aku ga ambil pusing, itu urusan dia. Lalu aku mampir ke tempatnya, kita ngobrol macam-macam, mulai dari PKL sampai ke “siapa yang deket sama kamu sekarang”.
Dan malam itu, aku dan dia terlempar ke masa lalu, tenggelam dalam kenangan… Padahal aku mengerti, dia sudah ada yang punya, dan aku pun telah menitipkan hatiku pada seseorang.
“Walau ku tak lagi sendiri…
Namun kau tetap saja menghantui…
walau ku tak lagi sendiri,
ku takut jatuh cinta kepada dirimu lagi…”
(Takut, by Stereomantic)
Mungkin bila aku sedang berada di roller coaster, aku sedang berada di tikungan dengan kecepatan tinggi. Antara senang, takut, dan berdebar-debar apa yang akan terjadi selanjutnya. Well, malam itu aku memang tidak bisa tidur. Tapi aku menganggap bahwa malam itu adalah sebuah kejutan atau letupan yang terkadang hadir di dalam hidupku untuk menyadarkanku bahwa hidup itu tak selamanya ada di jalan yang lurus…
NB:
-nya* : refers to my sunshine, bukan the heart-breaker, ato satpam depan rumah :p
** : kampung halamannya
Anyway, happy independence day
Di Persimpangan Jalan
July 27, 2008
Pagi ini, aku menemukan buku-buku berisi catatan kehidupan di masa lalu. Ya, diary berupa binder yang udah ga muat lagi karena terlalu banyak catatan di dalamnya, yang pinggirannya udah mo lepas (dulu aku isolasi malah. Sindrom malas beli binder baru. hehehe).
Saat aku membukanya, seperti kotak memori, semua berhamburan dan menyergap pikiranku, membangunkan kenangan masa lalu yang tersembunyi di balik ketidakpedulianku di masa sekarang. Ada catatan dari teman-teman seperjuangan di SMA, keluh kesah, senang sedih, saat-saat pelajaran yang membosankan sampai ditinggal main poker di belakang kelas, dan sejuta kenakalan masa SMA, catatan e-mail dan blog yang harus dikunjungi, kenangan tentang kakak kelas yang benci-benci rindu, kenangan tentang sahabat yang jadi pacar pertama..hmm gimana kabarnya sekarang ya?
Mengapa tiba-tiba aku ingin membuka catatan itu?
Mungkin karena beberapa hari yang lalu, aku bermimpi tentang seseorang yang tidak terduga. Yang aku kira sudah tidak ada cerita lagi tentang dia.
Cinta pertamaku dulu. Yang sepertinya berulang tahun hari ini (sepertinya? entahlah, aku juga hilang ingatan :p)
Berpijak dari sini, aku melihat teman-temanku yang sudah berpencar menuju jalan yang mereka pilih.
Teman-teman yang sekarang lagi PKL di luar kota. Seorang adek dan sahabat yang sekarang melanjutkan kuliah di Jerman. Seorang teman yang dulu kuliah sastra Jerman di Malang katanya September ini juga mau berangkat ke Jerman. Senior yang baru datang dari Swiss. Teman-teman IAAS yang ikut World Congress di Belarus (sudah pulang belum ya?). Seorang teman yang ingin sekali melanjutkan kuliah tetapi karena keterbatasan dana, memilih untuk menjadi penjaga toko.
Semua orang memilih jalannya sendiri. Apa yang aku lakukan sekarang? Aku malah duduk di sini, mengenang manisnya masa lalu, merenung mengapa semakin bertambahnya usia bukannya semakin dewasa malah semakin mengalami kemunduran pemikiran, masih bersikap tidak peduli akan masa depan. Aku berada di persimpangan jalan, antara beranjak dari tempat dudukku sekarang, atau tetap di sini, mempersiapkan bekal bila kesempatan itu datang. Entahlah, jalan mana yang akan aku pilih.
Ini bukan apa-apa.
December 5, 2007

Yayaya. Hidup ya begitulah, up and down. Ada siang dan malam. Masalah datang dan pergi. Tapi tetap saja aku selalu melarikan diri di saat aku tak tahan lagi.
I just can’t handle those problems anymore. For this time. So please, just let me relax and calm down…
Dan begitulah, semakin aku melarikan diri dari kenyataan, semakin under-pressure pula yang aku rasakan. Feeling guilty.
“Apapun akan aku lakukan, selain mengerjakan tugas-tugas yang ada,” frase yang diungkapkan seorang kawan yang juga mengalami nasib yang sama. Hahaha. Jadi, sampai kapan aku harus memandang hujan dan tak melakukan apa-apa?
Thx 4 the picture
Lihat pola makanmu…
October 22, 2007

2 hari tanpa nasi (melawan filosofi “perut orang jawa = ga kenyang kalo ga makan nasi”? ah ngga, cuma males aja. he3)
Kemarin cuma minum susu, ngemil, minum air putih, minum sari apel, makan mangga. Hari ini ngemil di pagi hari (hasil ‘ngerampok’ oleh-oleh teman-teman sekelas yang habis mudik.ho3), siang ga makan (malah diseret kesana kemari nemenin onii-chan ke perpustakaan. capee de. tapi gpp, dapet coklat. ho3), sore abis ke kosan temen, makan mie ayam + teh dalam botol. menjelang maghrib, minum susu coklat. ketiduran. bangun isya’ (hu3). minum air putih. minum susu coklat lagi. coklat dari onii-chan n wafer yang tadi kubawa ke kampus masi utuh. hmm. tumben aku masi bisa survive hari ini, tanpa pingsan gara-gara anemia :p
thx to image
NB : UTS di depan mata. blom ‘berburu’ catatan. syalala~… *nari ondel-ondel di depan unit* :p
Cerita 4 September
September 7, 2007
Sebelumnya, terima kasih banyak buat temen-temen yang udah ngirim sms, e-mail, greetings, ucapan, doa, makanan (tapi boong) dsb dalam rangka hari saya menjadi tua, tanggal 4 kemarin. He3.
Belom apa-apa udah ditodong makan-makan, padahal dapet kado aja belom *ngarep banget* :p
Tapi sedih juga, coz dapet kabar Om Bebek telah meninggal dunia. Hiks2. Ga nyangka secepat itu… padahal dulu (duluuuu sekali, waktu Om Bebek blom pindah ke Aceh, masih di Jember) pernah nanya, kapan ketemuan, tapi ternyata sekarang ga bisa ktemu lagi…
Just wanna say…
May 23, 2007
I’m ok. Altough it’s hurt, and you turn my heart into pieces. I’m ok (altough deep inside, I’m not ok)
Ternyata hatiku benar
Cintamu hanyalah sekedar tuk sementara
Akhirnya kita harus memilih satu yang pasti
Mana mungkin terus jalani cinta begini
Karena cinta tak akan ingkari
Takkan terbagi
Kembalilah pada dirinya
Biar ku yang mengalah
Aku terima…
(Cinta Begini – Tangga)
sakit hatiku yang kesekian kalinya
aku berharap ini bukan nyata
aku dan kamu
menangisi pedih
namun kita tetap
mencoba berdiri
cinta kita
berbatas keadaan
kucoba tuk hapuskan
meski tak bersama
namun tetap di jiwa
maafkan
terlalu cepat kuhentikan
terima kasih
kau mengerti dan menerima…
(Cinta Berbatas Keadaan – Tangga)
Terima kasih, karena kamu telah jujur, walau itu menyakitkan. Terima kasih, karena ternyata apa yang aku rasakan tidak bertepuk sebelah tangan. Terima kasih, atas waktu yang kita lewati bersama, atas setiap kasih sayang yang kita bagi, atas setiap canda tawa dan air mata yang pernah ada. Terima kasih, kamu telah menjadi bagian yang berarti untukku, walau pada akhirnya seperti ini…
NB : maaf bila jarang blogwalking, saya sedang dalam kondisi sangat kacau (baik jadwal, maupun kondisi hati saya). Gomenasai…

