Search

Pandora Heart

I'm not trying to hide anything. It's just that I don't want to see.

WIP

Terlalu banyak distraksi, tak ada ruang untuk menyendiri.

1 Agustus

Setahun yang lalu, aku mengantarkanmu pergi di tengah hujan tangis. Air mataku sudah mengering sebelum yang lain tahu. Biarlah yang mereka lihat hanya ekspresi wajahku yang datar dan kaku.

Mereka memilihkan tempat peraduan terbaik, walau cukup jauh dari rumah. Tak apa, setengah jam perjalanan tak akan terasa jika rindu sudah dalam genggaman. Di tepi jalan setapak, pohon  rindang menaungi pusaramu bagai payung teduh.

Maaf, aku belum sempat berkunjung lagi untuk mengganti bunga yang pasti sudah mengering. Yang bisa kuandalkan hanya untaian do’a yang terputus-putus dan berharap sampai padamu.

Dari berbagai memori yang kupilih, yang kuingat hari ini adalah sosokmu yang termenung di beranda, hanya mengangguk saat aku pamit bekerja di pagi hari. Kehadiranmu terasa menipis dan aku tenggelam dalam sorot matamu yang sayu.

Jika ditanya apa yang kusesali, mestinya aku menghabiskan lebih banyak waktu hening bersamamu. Aku tak akan mempertanyakan masa lalu, sebagaimana pertanyaan tentang masa depanku tak pernah terluncur dari bibirmu. Karena dalam diam, kita terasa lebih dekat.

Untuk Bapak, yang telah pergi mendahului kami.

[Kuliner] Kimchi Story Malang

Di Malang, kedai atau kafe dengan tema makanan Korea Selatan sudah mulai menjamur. Menunya pun ga melulu kimbap atau tteokpokki yang dijual di bazaar event. Harganya pun bervariasi, mulai dari sepuluh ribuan sampai lima puluh ribuan atau lebih, tergantung jenis makanannya.

Salah satu kafe baru yang kelihatannya menarik untuk dicoba adalah Kimchi Story. Dilihat dari feeds di Instagram, menunya cukup bervariasi, tidak hanya jajanan seperti tteokpokki atau kimbap, tapi juga menu berat seperti bibimbap dan beef bulgogi.

Continue reading “[Kuliner] Kimchi Story Malang”

The Present

I think the present moment is so underrated. It sounds so ordinary, and yet we spend so little time in the present moment that is anything but ordinary.

We can’t change every little thing that happens to us in life, but we can change the way that we experience it.

[TED] Andy Puddicombe: All it takes is 10 mindful minutes

Favorite TV Series

Dari dulu saya tertarik dengan TV series atau cuitan yang membahas penyelidikan, medis, psikologi, forensik dan semacamnya (Amygdala, saya berada di barisan cengkeh nastarmu). Saya sudah menonton beberapa seperti: Continue reading “Favorite TV Series”

Dream Job

Kata Shonda Rhimes di TED (iya, Shonda Rhimes yang bikin Grey’s Anatomy sampai Season 12 dan membunuh karakter-karakter favorit saya),

“A dream job is not about dreaming. It’s all job, all work, all reality, all blood, all sweat, no tears. I work a lot, very hard, and I love it. When I’m hard at work, when I’m deep in it, there is no other feeling. For me, my work is at all times building a nation out of thin air. It is manning the troops. It is painting a canvas. It is hitting every high note. It is running a marathon. It is being Beyonce. And it is all of those things at the same time.”

Kalo kata mas-mas yang satu ini, dream job itu ya pekerjaan dimana kita dibayar buat mengerjakan hal yang kita suka. Bekerja di Star Wars HQ, membuat action figure, membuat komik, jadi host mengunjungi rumah-rumah cakep di Jepang…

Atau menurut saya, jadi Crime Scene Investigator ala CSI Cyber atau cosmetic product developer seperti Vani Sagita itu kece juga😀

Tapi ya, sebenarnya dream job yang saya tulis di atas mungkin bukan pekerjaan impian yang benar-benar bisa saya lakukan. Lebih tepatnya, itu pekerjaan impian yang membuat saya terpesona, dan membuat saya berimajinasi bahwa itu adalah pekerjaan saya di dunia paralel. A real dream job? I’m not sure, for now. 

What’s yours?

Sejak Bulan Oktober

Sejak bulan Oktober 2015, saya berhenti menulis apapun disini.  Meninggalkan sedikit remah-remah di twitter, posting foto kuliner di instagram (jika ingat), membalas pesan di Beetalk sesekali. Selebihnya aktivitas saya lebih banyak di kantor, saling mengirim pesan dengan para sahabat, banyak membaca artikel kesukaan, dan bermain game online.

Saya seperti sedang menenun kepompong udara, dan membungkus diri saya sendiri dalam versi lebih ceria dan terbuka. Menunggu sampai tiba waktunya versi saya yang lebih baik, terbangun.

Tentu saja itu adalah alasan saya untuk tetap bertahan di zona nyaman. Agenda mini yang rencananya dibuat untuk menuliskan remah-remah pikiran, akhirnya lebih banyak diisi dengan jadwal, to d0-list, daftar belanja bulanan, dan resep masakan sederhana. Sejak salah satu dari sahabat saya pindah ke luar kota, otomatis saya tidak banyak melakukan pertemuan dengan orang lain (di luar lingkup keluarga dan pekerjaan). Saya semakin senang menyibukkan diri sendiri dengan hal-hal yang tidak membutuhkan pertemuan baru.

Baru akhir-akhir ini saya memberanikan diri untuk bergerak ke jalan yang baru, mulai dari hal-hal kecil, seperti:

  • Saya (akhirnya) mencoba yoga sendiri di rumah dengan bantuan aplikasi android. “Beginner Bala Yoga for Back and Abs,” adalah permulaannya, karena sebelumnya saya sering mengeluh sakit punggung dan badan kaku. Walau belum bisa mengikuti satu sesi penuh (45 menit), dalam waktu dua minggu ini saya merasa lebih bugar dan tidak ada keluhan sakit punggung tiap kali bangun tidur. Ini tentu saja ditunjang dengan lebih giat minum air putih,
  • Mindful eating. Saya masih suka pizza, cokelat, es krim, dan sebagainya. Namun saya berusaha untuk selalu bertanya pada diri sendiri, ketika saya marah, sedih, frustasi, bosan apakah saya benar-benar lapar? Meneguk air putih cukup membantu dan menenangkan pikiran. Saat saya ingin mengambil segelas minuman bersoda berikutnya, membuka bungkus cokelat kedua, atau makan gorengan beberapa potong, saya berhenti sejenak dan berpikir, inikah yang saya inginkan? Think twice. Dalam 2-3 bulan terakhir, ini membantu mengurangi frekuensi jajan di luar atau mengemil di saat bosan.

Tentu saja, masih banyak yang perlu dikoreksi untuk menjadi diri yang lebih baik. Tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin.

Bagaimana denganmu?

Waktu.

Benda ini makan segalanya;

Burung, binatang, pohon, dan bunga;

Mengerat besi, menggigit baja;

Batu keras pun digilingnya;

Membunuh raja, menghancurkan kota.

Meruntuhkan gunung sampai rata.

Kalian pernah mendengar atau membacanya? Ya, itu salah satu teka-teki Gollum untuk Bilbo di The Hobbit.

“Bilbo memikirkan nama segala raksasa dan gergasi yang pernah didengarnya dalam dongeng, tapi tak ada satu pun raksasa yang bisa melakukan segala hal ini.”

Bilbo yang nyaris dimakan Gollum bisa menjawab dengan benar karena keberuntungan. Saat ia ingin berteriak,”Beri aku waktu! Beri aku waktu!” yang keluar dari mulutnya dengan suara melengking hanyalah: “Waktu! Waktu!”

 Memang itulah jawaban teka-tekinya.

Waktu saya membaca ini, saya teringat kalimat yang pernah saya tulis sebelumnya di suatu tempat.

Waktu muda, kita menukar waktu dengan uang. Kita berpikir, uang bisa membeli segalanya, termasuk waktu bersenang-senang di saat tua.

Waktu tua, kita menukar uang dengan waktu. Kita rela membayar uang sebesar apapun demi bisa kembali ke masa lalu, masa muda.

Mungkin itu sebabnya krim anti-aging laku keras di kalangan wanita menginjak usia paruh baya #apasih

[Kuliner] Gedhang Ganteng

IMG_20150807_1747501

Sudah beberapa hari yang lalu saya dan Tuan Kacang ingin wisata kuliner lagi, cari jajanan buat pengganjal perut di sore hari. Meluncurlah kami ke Gedhang Ganteng, salah satu cafe di Jl. Mayjen Panjaitan 172 Malang. Judulnya aja Gedhang Ganteng, jadi temanya juga pasti ga jauh-jauh dari pisang dan olahannya.

Continue reading “[Kuliner] Gedhang Ganteng”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,577 other followers