Cerita Seingatnya: Kingsman – The Golden Circle

Kembali lagi di episode #ceritaseingatnya.

Sudah lama saya tidak nonton film di bioskop, terakhir kali waktu nonton Doctor Strange (demi mas Bennie idolaku). Jadi waktu sekuel Kingsman, The Golden Circle tayang di bioskop, saya tidak melewatkan kesempatan kali ini. Walaupun saya ga cinta-cinta amat sama tokoh utamanya, ditambah waktu ngelirik Rotten Tomatoes ratingnya cuma 50%, saya tetep kepincut sama trailernya yang heboh, gadget ajaib dan full action ini Kingsman apa The Matrix.


kingsmanposter_0
pic source

Adegan pembuka sudah disuguhi action yang intens, antara Eggsy dan Charlie Hesketh (mantan trainee Kingsman yang punya tangan robot dan sekarang jadi anak buah ratu narkotik kelas internasional). Eggsy si anak alay (mengutip istilahnya Cenayang Film) sudah jadi pemuda tangguh yang bisa berantem.

Musuhnya kali ini ratu narkotik, Poppy Adams yang punya kota dengan segala properti cerah warna-warni di pedalaman hutan belantara Kamboja. Karakternya ceria, tapi kejam luar biasa. Hobinya masak burger dari daging giling manusia.Ciri khasnya adalah tato lingkaran emas (golden circle) di badan pegawainya.

Poppy yang merasa terancam, meretas perangkat Kingsman dan mengirimkan misil ke semua markas agen Kingsman. Hanya Eggsy dan staff Kingsman, Merlin yang selamat. Mereka meminta bantuan pada ‘sepupu’ Kingsman di USA, Stateman, untuk melawan jaringan pengedar narkotika kelas dunia sekaligus mendapatkan obat bagi masyarakat pengguna narkotika ‘spesial’ racikan Poppy.

Singkat cerita, menurut saya:

  • Nikmati visual effect dan full action yang memanjakan mata dan telinga. Gadget dan kotak P3K futuristik melimpah.
  • Disarankan nonton film yang pertama, karena ada beberapa adegan yang flashback ke masa lalu.
  • Twist ceritanya nggak seintens di film pertama, malah dari segi cerita sebenarnya agak kedodoran, banyak pertanyaan yang tidak dijelaskan sampai akhir.
  • Banyak adegan sadis tapi nggak logis. Saingan sama Final Destination kayaknya.
  • Nggak rugi nonton di bioskop!
Advertisements

Bebek Goreng dan Ulang Tahun

Hari ini saya genap berumur 30 tahun. Tahun ini saya ngerasa sedikit sentimental, secara resmi sudah kepala 3 hahaha.

Pic : http://instagram.com/itsweinye

Terlepas dari itu, tahun ini saya lebih rileks dari tahun-tahun sebelumnya. Saya tidak berharap apapun seperti yang sudah-sudah, ataupun ingin sesuatu yang spesial hari ini. Hari ini pun berlalu seperti biasanya  

Saya bersyukur dikelilingi oleh orang-orang baik, yang memang ingat atau baru sadar setelah melihat Facebook sebagai pengingat :))

Malam ini menunya sedikit spesial. Bebek goreng legendaris favorit keluarga, yang hanya muncul setiap kali ada anggota keluarga yang ulang tahun. Menu ini selalu hadir untuk dimakan bersama-sama, mulai dari saya masih bocah sampai sekarang jadi emak-emak (kucing) yang rempong.

Malam ini saya makan bebek goreng berdua dengan Ibu, dan duduk di kursi yang dulu biasa ditempati almarhum Bapak. Saat makan dan menyisihkan kulit bebek goreng, saya ingat Bapak yang selalu makan kulit atau kepala bebek. Daging dada atau paha selalu diberikan pada saya, si bungsu yang dulu sering susah makan.

I take them all for granted. 

Iya, dari dulu saya memang ga tahu diri, waktu masih ada biasa aja, begitu ditinggal nyesek di dada 😐

Malam ini, saya lebih rindu beliau dari biasanya.

Belajar Fokus (lagi)

Bisa nonton IG stories satu jam, tapi baca buku satu bab udah ketiduran.

Bisa scroll Twitter sampai lupa makan, tapi fokus ngerekap laporan belum sepuluh menit udah nyerah.

Di kantor, sekalinya buka tab browser, 90% isinya entertainment (kadang malah nyolong-nyolong waktu buat nonton drama *uhuk). Dasar kamu gabut melulu! *ngomong sama cermin*

Bullet journal-ing sampai saat ini cukup membantu biar ga salah fokus terus-terusan (tema 2017 buat saya adalah #kurangisalfok2017).

Tapi untuk detox social media, kayaknya lebih mendesak demi kesehatan mental.

Saya nggak mau jadi mbak-mbak yang saya lihat semalam, terhuyung-huyung nyaris terjungkal dan nabrak orang gara-gara nggak lihat jalan, lebih fokus sama smartphonenya 😦

Ambisi

Saya biasanya ga percaya dengan yang namanya penggolongan karakter berdasarkan golongan darah, tapi kalau memilih salah satu karakter yang mencerminkan saya, itu adalah soal ambisi.

Dalam berbagai kasus, saya menyebut diri sendiri sebagai jack of all trades, master of none. Saya sering tertarik pada banyak hal dalam satu waktu, membaca sedikit lebih banyak dari orang lain, kadang-kadang dibilang google berjalan. Tapi ya itu, ilmu saya cetek, kalau misalkan ada kasus yang saya kurang tahu, saya juga ga berani rekomendasikan ini-itu (walau tetap saja saya sering kemeruh dan menyesatkan *sungkem).

Seseorang pernah bilang, seandainya saya punya sedikit lebih banyak ambisi untuk menjadi leader, bukan nggak mungkin pak bos mengangkat derajat kacung seperti saya ini ke level yang lebih tinggi. Tapi ya begitulah, menjadi tokoh di balik layar dan menjadi ninja yang keberadaannya menyatu dengan pot kembang masih jadi pilihan utama saat ini. 

Ambisi untuk naik panggung dan menguasai dunia? Nanti dulu (kalau ingat).

Unpretty Journal

Saya punya banyak buku catatan. Mulai dari diary menye-menye jaman sekolah, binder yang isinya kata-kata bijak, catatan kuliah dan ide-ide untuk PKM, catatan keuangan (yang terlupakan setelah 7 hari).

Sekarang, buku catatan lebih banyak saya gunakan untuk mencatat to-do list, daftar belanja, pekerjaan kantor, info penting (seperti cara minta surat rujukan dan prosedur menebus obat pakai BPJS). Kadang nyelip catatan uneg-uneg, bucket list, wishlist item, resep masakan ibu mertua, komik dan TV seri yang ingin dibaca dan ditonton.

Memang sih, sudah ada teknologi yang memudahkan, seperti Evernote, tapi tetap saja rasanya lebih greget untuk menulis acak-acakan dan mencoretnya di buku. Ide-ide juga lebih mudah keluar waktu menulis pakai tangan. Yes, it’s unpretty and I’m proud of it.

Continue reading

Sepuluh Tahun

Sepuluh tahun berlalu, terlalu banyak memori tersimpan, terlalu banyak kenangan terlupakan.

Jatuh bangun berkali-kali.

Membenci dan memaafkan.

Pemakaman tanpa air mata.

Bunga mawar yang tak sempat terbeli.

Prioritas menggunakan uang dan waktu sudah berubah sejak sepuluh tahun yang lalu.

Ada yang berubah.

Terlalu sering saya tenggelam dalam rutinitas. Saya tak lagi menulis untuk mengosongkan pikiran. Saya memilih berkeluh kesah dengan orang tersayang, atau konfrontasi langsung dengan orang lain jika ada sesuatu yang tidak beres. Catatan harian berganti catatan anggaran keuangan tiap bulan. Tempe goreng dengan sambal bawang sekarang menjadi menu yang selalu saya nantikan.

Ada yang tetap sama.

Saya masih sering sulit tidur jika ada pikiran yang mengganggu. Saya masih suka main games online dan baca komik. Saya sedang ‘menekuni’ ritual skincare Korea dan memilah tahapan mana yang bisa disesuaikan dengan tipe kulit saya. Jajan saya sekarang nggak cuma makanan, tapi juga skincare :))

Kalau kamu, apa yang berubah setelah sepuluh tahun?