Perjalanan Sehelai Daun

Matahari baru saja bangun dari peraduannya. Kuncup-kuncup daun kecil terlindung oleh tetes-tetes embun. Kepekatan dan dinginnya udara menambah kesejukan pagi itu,

Waktu mengetuk kuncup-kuncup daun kecil itu. Dan kini ia mulai tumbuh, tumbuh besar..menjadi daun sejati. Hijaunya menyilaukan mata, segarnya mengundang siapa saja untuk melihatnya.

Ya, aku adalah daun hijau dari sebuah pohon di pinggir jalan. Entah kenapa aku ada disini, bersama indukku. Tapi bukan salahku bila aku ada disini, harus menghirup pengapnya udara bila siang kunjung tiba. Semua terasa panas, bahkan saudara-saudaraku pun merasa gerah karenanya.

Aku bosan disini. Memandangi mereka yang berjalan hilir mudik, yang kata saudara-saudaraku itu namanya manusia, yang bernaung di bawah pohon ini tanpa berterima kasih, atau hanya menjadi penghisap udara yang kian lama bisa dilihat dengan jelas warnanya.

Oh hujan, kata saudara-saudaraku kau sudah lama tak datang. Dimana kau, wahai hujan? Aku pun ingin melihatmu. Selama aku hidup, belum pernah aku mencicipi air selain embun saat pagi hari. Kata mereka, kau bagai pedang yang menghunus tiap sendi tulang-tulang mereka, namun terasa kebahagiaan yang terpancar dari diri mereka ketika kau datang.

Ah..aku semakin lelah, kulitku semakin keriput, warnaku pun tak secerah dulu lagi. Sepertinya ku harus menyusul saudara-saudaraku yang lain di bawah sana. Adik-adikku rupanya sudah banyak yang lahir, menggantikan kecemerlanganku, mengarungi kehidupan, menunggu waktu menjemput, dan berusaha sebisa mungkin untuk manusia yang sepertinya semakin tak peduli dengan kami. Biarlah, semoga mereka berubah.

[to be continued]

Advertisements