Yap benar sayah sudah kembali ke Malang sodara-sodara. Masih dengan wajah ndak jelas antara jutek dan jayus, antara merengut dan nyengir, dan yang pasti masih kucel bin ga sedap dipandang ;p

Setelah (hampir) seminggu ada di Madiun, ternyatah sayah cuma pindah makan-tidur-baca-nulis. Mungkin dengan tambahan bertemu dengan sodara-sodara dalam Paguyuban Sumodiharjo (buyut sayah) dan bantuin ngasuh keponakan TERCINTAH yang GANTENG nian, Dyva aka Cupluk.

Seperti halnya ritual tahunan, berkunjung ke rumah Eyang, icip-icip jajan yang berlimpah dan membuat jantung berdebar-debar (takut badan bengkak lagi -_-“), makan-mandi-tidur-ritual harian manusia, lalu di Hari Raya Idul Fitri ya sholat Ied di alun-alun Madiun, sungkem sama keluarga, dan makan-makan. Sempat calling seorang sahabat, jadi kangen untuk bercerita lebih banyak πŸ˜‰ Hari kedua rumah Eyang yang tadinya cuma dihuni 4 orang (aku, Eyang, Bulik dan Bapak sayah), membengkak menjadi lebih dari dua kali lipatnya dengan kehadiran sodara-sodara laen dari Bandung. Alhasil, sayah ngungsi ke rumah kakak kedua bersama Ibu, kakak pertama, kakak kedua beserta suami dan si Cupluk. Tanggal 5 ikut acara Pertemuan Keluarga Besar, yang ternyata isinya makan-makan, nyanyi-nyanyi dan ngobrol ngalor ngidul ga jelas. Kadang-kadang menabur senyum palsu dimana-mana, cuma untuk berbasa-basi padahal ga kenal dekat dengan mereka. Bertindak defensif, aku cenderung diam di kursi belakang dan melahap es krim 2 gelas, tak lupa mengamati mereka yang ehm…sepertinya menganggap pertemuan itu tak hanya pertemuan keluarga, tapi juga unjuk gengsi, menunjukkan dengan bangga, “Eh, aku bawa mobil tiga lo..Eh aku taruna lo..” dsb. Bosan, niatan hati setelah makan-makan kami (aku, dua kakak dan satu kakak ipar beserta ibu dan si Cupluk) melarikan diri ke Sarangan, tapi apa daya lagi nggilani ruamenya dan ternyata kondisi yang sama juga terjadi di Tawangmangu. Apa boleh buat, kembali ke rumah deh.

Tanggal 6 benar-benar kembali ke habitat, yaitu Malang. Jangan ditanya soal oleh-oleh, kami bawa sekotak tape, sekotak cake, dan sekeranjang telur ayam kampung. Jangan tanya soal brem Madiun πŸ˜‰ Dan ternyata jalanan macet, orang-orang juga pada balik ke Malang. Siyal, abang juga tiba-tiba sms, katanya lagi sekarat. Seorang sahabat sedang mengalami masalah dengan adiknya. Nah lo! Moga-moga ga kenapa-napa 😦

Dan rumah sudah menanti kami dengan parsel kue kering (hmm…ada kue coklat, kismis dan kastengel..slurp!). Sempat nonton Cinta 24 Karat, lumayan buat selingan. Nonton 5 Sehat 4 Sempurna jugak ngga? Hampir sama jayusnya. Sambil ngasuh si Cupluk, baca Kanbayashi&Kirika, ubek-ubek kamar, menata kembali karena sebelumnya seperti kapal pecah jadi 7, setelah ditata lumayanlah seperti kapal pecah jadi 5 πŸ˜€

FYI, sayah memang orang tengil yang narsis dan…berat badan yang udah turun 2 kilo mulei naik sekilo *ugh* -_-“

Advertisements