Hari Minggu kemarin, sejak jam 11 siang aku membukakan pintu untuk sahabat-sahabatku. Tahukah kamu, satu dua jam sebelumnya aku menerima sebuah kotak Pandora, yang menyimpan banyak rahasia, menggodamu untuk mengintipnya, dan saat kau tergoda untuk membukanya, kamu tahu bahwa penyesalan selalu datang terlambat, memupuskan rasa bahagia, membuatku terguncang dan terpuruk. Sirna sudah senyum itu.

Dan saat seorang sahabat datang berkunjung, bukannya menyambut dengan senyuman dan pembicaraan hangat, aku menyuguhkannya raut wajah yang masam dan keheningan yang membosankan. Maaf, bukannya aku membencimu atau bosan melihatmu. Ini hanya efek kotak Pandora. Bahkan untuk membuat senyum palsu pun aku tak sanggup. Aku tahu, karena kau bisa membaca raut wajahku. Kita sama-sama punya masalah, dan sedang tidak ingin mengungkitnya.

Barulah aku bisa menyambut dengan senyuman, tawa gembira dan pembicaraan hangat setelah sahabat lain yang datang. Mungkin kau menganggap ini diskriminasi, tapi bukan itu maksudku. Kau pun pergi, meninggalkan wajah kecewa dan tanda whats-happen-to-u. Lagi-lagi maaf aku kirimkan setelah kau pergi. Mungkin kamu marah, mungkin kamu kecewa. Suatu saat, bila tiba waktunya, aku akan berbicara kepadamu.

Dan kotak Pandora itu berisi…rahasia keluarga.

To my friend, Cumi2, gomen ne.

Advertisements