Cintamu Senasib Sebatang Tebu

Itu judulnya cerpen seorang teman, yang maksudnya adalah, “Iya kan, tebu itu habis manis sepah dibuang…” 😀 Yong, kapan nih bikin film dengan setting horrornya RKB Unibraw? 😀

Bukan apa-apa, sayah ndak abis makan tebu kok (kalo makan juga nggak bilang-bilang hehehe).
Well, let’s see… Tes TOEFL (ketawa ga jelas), Laporan Praktikum Biologi (baru dikumpulin tadi siang), quiz mendadak BIOKIMIA PANGAN (“Yak, keluarkan kertas, kita quiz sekarang! Tuliskan struktur alfa L galaktosa, beta D glukosa, maltosa, sukrosa, amilopektin, dan asam pektinat!” >> *jedot pala ke meja*), rapat Klif-Alpabet (pusing bukan buatan), dan (lagi-lagi) jadi orang (sok) penting sampe-sampe harus pulang Maghrib *huhu*.

Baru baca beberapa halaman dari The Zahir – Paulo Coelho. Setipe dengan bukunya yang lain, The Alchemist & Veronika (nice books, I think).

Zahir adalah seseorang atau sesuatu yang sekali kita mengadakan kontak dengannya atau dengan itu, lambat laun memenuhi seluruh pikiran kita, sampai kita tak bisa berpikir tentang hal-hal lain. Keadaan itu bisa dianggap sebagai tingkat kesucian atau kegilaan.”

Hmm… yang terlintas pertama kali adalah internet & blog (hehe). Yang kedua, adalah seseorang yang tak pernah kuhubungi lagi sejak tanggal 18 Maret 2006. Orang yang entah kenapa bayangannya masih mengusikku, padahal keberadaannya tak terdeteksi lagi. Hei, kenapa kau masih bisa memenuhi pikiranku? Padahal bisa saja aku sudah tak ada lagi di jiwamu…

Anyway, ada seorang kawan yang berkata kebanyakan isi blog ini agak mellow. Well, kamu salah kawan. Yang benar adalah SANGAT mellow. Jangan tanya kenapa 🙂

“Tak pernah ada yang sama dalam episode kehidupanku. Walaupun itu deja vu, ataupun sejarah masa lalu yang terulang kembali. Tak pernah ada yang persis sama. Seperti saat aku menyandarkan bahuku pada sahabat-sahabatku. Saat aku tertawa riang dan mengoceh kesana-kemari bersama kawan-kawanku. Saat aku melintasi lapangan Rektorat Unibraw pada suatu sore. Saat aku melihat petir menyambar dalam kegelapan. Saat aku memutuskan untuk meng-install lagi kehidupanku, mulai dari titik nol. Walau aku tahu titik nol yang kumaksud bukan awal dari kehidupan yang benar-benar bersih. Titik nol yang kumiliki adalah waktu yang kumiliki untuk mengisi kekosongan hatiku, mengusir keraguan yang tumbuh dan menggerogoti semua keberanianku, bergegas menggapai impian di depan mataku, tersenyum dan membahagiakan orang yang kusayangi, dan berbuat yang aku bisa.

Kamu bisa jadi adalah Zahir-ku, seperti seorang suami yang ditinggalkan oleh istrinya tanpa alasan, tanpa jejak, dan kepergiannya membuat pertanyaan besar yang menggerogoti seluruh hati, pikiran, kenangan yang hampir membuatnya gila, seperti dalam The Zahir milik Paulo Coelho.”

Ah. Lagi-lagi kayak gini 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s