Listen to : Toxicity – System of a Down

Just a simple question:

Kenapa aku sedih saat sahabatku menjadi orang yang lebih baik (spontaneously)?

Mungkin karena belum terbiasa…
Sebagai orang yang sangat mengenal dia, sifat baik buruknya, leluconnya, emosinya yang mudah meledak dan turun secara tiba-tiba, tawanya yang membahana, ucapannya yang kasar tapi mengena, secara tiba-tiba berubah 180 derajat menjadi orang yang kalem, tutur kata ramah nan lembut, tawa yang secukupnya, cukup membuatku speechless.

Mungkin karena aku menyadari kenyataan…
Bahwa jalan hidup kita berbeda, aku sibuk dengan aktivitas kampusku, dia dengan kehidupannya yang complicated, dan yang satu lagi suka keluyuran, nonton konser, jalan-jalan dsb.

Mungkin aku takut…
Untuk menerima dia apa adanya, apapun perubahan yang dia miliki. Untuk kehilangan dia yang dahulu, dimana kita seperti memiliki satu visi : Norak-norak Bergembira. Untuk menghadapi kenyataan bahwa aku tidak lagi sedekat itu dengan-Nya.

Dan yang membuat aku lebih terpojok lagi:
”Kamu nggak mau ikutan training emotional spiritual ta? Juli ada lagi lho… Untuk mahasiswa lumayan lo… lima ratus ribu, aset seumur hidup, dunia akhirat…”
… *speechless*
(Separuh hati ingin, tapi separuh hati ragu-ragu. Masalah fulus-abis beli FD bow dan mental, aku rasa.)

NB : Huaa… mellow lagi mellow lagi… =p rasanya bahagia abis reuni temen SMA, beli FD, nginstall VB 6 + McAfee Antivirus terbaru + download lagu2 MCR, Agnes, Kotak, Saint Loco, Fort Minor dll hampir menguap seketika… thanks bwat semuanya yang udah memberi perhatian pada masalah sebelumnya… Saya sangat menghargainya… Arigatou… Ganbatte ne! 😉

Updated : Setannya sudah kembali..!!! *evil grin* >:D

Advertisements