Menurutku, narsis itu ga dosa selama ga merugikan orang lain.
Menurutku, narsis itu AGAK lebih mending daripada ga pe-de (walo sebenernya sama-sama over sih).
Menurutku, narsis itu sangat berguna untuk yang suka becanda, “Lu narsis ah!” dan dilanjutkan saling sambit atau membandingkan siapa yang paling narsis di dunia ini *lirik sodara sepupu*
Menurutku, orang yang narsis lebih dikenal daripada yang tidak narsis. Contoh: saya di kampus. He3.
Menurutku, narsis itu perlu dilestarikan karena mereka adalah spesies2 yang langka *disambit*.
Menurutku, narsis ini sangat-sangat-sangat menular. Dulu waktu SMP bisa dibilang aku orang yang sama sekali ga suka jadi pusat perhatian (dikit-dikit sih iya). Menjelang SMA, bisa jadi karena teman-temanku orangnya pada narsis, ketularan deh. Narsis ini pun semakin menjadi-jadi ketika menapaki masa kuliah, dimana berbagai manusia yang memiliki kenarsisan yang sama bertemu…
Selama ini sih, orang-orang narsis yang pernah aku tau CUMA suka mejeng dimanapun dia berada, suka foto diri sendiri dalam berbagai pose, suka bertanya, “Apakah aku tampan?” ala Mulbuldosa-Kung Fu Komang *lirik temen sekelas waktu kelas 3 SMA*, suka menganggap dirinyalah yang paling tampan atau cantik sedunia. Pokoknya belum sampai merugikan orang lain *paling2 jugak dirasani-digosipin* or selama ini sih masih dianggap wajar n konyol. Belum ada yang ngerasa kalo orang narsis itu patut dibasmi. Tapi ada pesan hari ini yang menyinggung kenarsisanku.

“Subject:Duh, Narsis banget sih!!
Aku liat profilemu di FS, bikin aku geleng2 kepala. Well, after read ur profile, I felt that u’re not living in the real world.”

Hah? Aduh kakakku yang satu itu *geleng2 kepala*. Tapi benar jugak sih, aku merasa aku punya dua dunia, dunia nyata lengkap dengan filosofi life is cruel, life bites you, etc. Dunia yang kedua adalah dunia yang aku ciptakan sendiri,terbentuk dari imajinasi, mimpi-mimpi indah, dan hal-hal yang tak dapat aku miliki dalam realitas. Tapi aku masih bisa membedakan keduanya. Aku bukan skizofren. Ups, aku belum merasa, maksudnya. Entah nanti, dimana aku tidak bisa membedakan yang mana khayalan, atau kenyataan, seperti John Nash di A Beautiful Mind

Penjelasan tentang narsisme bisa dilihat di sini.

Advertisements