Psstt… ceritanya panjang neh, kalo males baca di-skip aja dey =)

2 hari yang lalu, seorang kawan mengajakku ke kampus. Siapa tahu ada pengumuman baru, katanya. Aku mengangguk setuju, dan esoknya pergi ke kos-kosannya, sekaligus mengembalikan buku-bukunya yang aku pinjam. Aku mengantarnya ke bank untuk mengambil uang sekaligus membayar SPP untuk semester ganjil. Masih pukul setengah sembilan, tentu saja masih sangat sepi. Aku dan kawanku pun bisa langsung membayar SPP tanpa menunggu waktu lama.

Setelah itu, ia mengajakku duduk di depan bank tersebut. “Dua hari ini kepalaku penuh dengan hal-hal yang ingin aku ceritakan ke kamu, tapi nggak apa-apa ya kalau ceritanya nggak urut,” katanya. Lalu ia pun bercerita tentang kegiatan UKM yang diikutinya minggu ini. Dengan sangat menggebu, dia pun bercerita tentang tamu dari luar negeri, semacam pertukaran pelajar di sini, kegiatan yang dia ikuti, keinginannya untuk mengasah kemampuan speakingnya, konflik internal dalam kepanitiaan, dan sebagainya. Aku mendengarkannya, sesekali berkomentar dan mencomot risoles yang aku bawa sebagai bekal tadi. Mungkin sekitar dua jam dia mengoceh tanpa henti, menumpahkan segala uneg-unegnya, sambil menghabiskan risoles dan donat cokelat kacang yang aku bawa.

Setelah itu kami pergi ke jurusan, di depan hanya terlihat kakak angkatan yang kelihatannya ikut semester pendek. Di himpunan, ada beberapa kawan yang memang ‘penghuni tetap’ sekaligus kakak angkatan yang duduk-duduk di sana. They’re staring at me. I don’t know why. Katanya beberapa panitia akan melakukan survey besok di Coban Talun. Hmm. Senang bertemu mereka lagi 🙂

Di Fakultas, kami bertemu Pak Budi, petugas administrasi fakultas. Aku melihat lemari-lemari yang dipindahkan, katanya urusan akademis akan dipindahkan ke Poltek. Duh, jauhnya. Apa boleh buat. Sementara itu, kawanku bercerita panjang lebar pada Pak Budi, sesekali berkomentar. Aku sendiri pun mendengarkan dia bercerita, sambil sesekali menambahkan apa yang dia ceritakan.

Kemudian tiba-tiba Pak Budi bertanya padaku, “Sepurane nggih (Maaf ya), Anda genusnya nurun dari bapak ya?” Aku bingung, apa yang beliau bicarakan? “Anda kok kelihatannya kayak… pendiam, kaku, kurang luwes gitu… Biasanya itu nurun dari ayahnya.” Akhirnya aku mengerti, yang dimaksud adalah sifat dominan yang didapatkan dari ayah. Aku mengangguk, kemudian beliau bercerita, kalau suka berbicara biasanya nurun dari ibunya, seperti halnya dengan kawanku itu yang memang suka ‘ngoceh’.

Tak hanya itu, beliau juga berkata, kalau orang seperti aku itu orangnya fokus, sekali terarah maka sulit untuk berpikir yang lain. “Hati-hati ya, Anda jangan terlalu hati-hati, nantinya malah mandeg (berhenti), karena terlalu fokus ke masalah yang Anda hadapi. Masalah itu pasti ada, jangan lari darinya. Oh iya, yang Anda harus pikirkan sekarang sebaiknya studi Anda dahulu, masalah asmara jangan terlalu dipikirkan (he3). Mm… Nantinya suami Anda itu orangnya putih (sontak kawanku itu langsung menyebutkan salah satu teman yang pernah membuat aku GR. Ga usah disebut ah =p~), suka ngalah (Bener juga sih, mengingat egoku yang tinggi, bisa repot kalau sama ngototnya).. Mungkin karena saya sudah sepuh, jadinya bisa lihat pembawaannya orang… Ngomong-ngomong, Anda ternyata kalo sudah kecekel (apa sih bahasa Indonesianya? Terpegang? Pokoknya semacam udah kenal baik gitu deh) bisa ngomong juga yah (maksudnya bisa ngoceh juga. He3).”

Yah, setelah ngobrol dengan Pak Budi, aku merasa aku memang harus belajar untuk memperbaiki kekuranganku. Awalnya aku pesimis sih, mengingat aku orangnya sangat moody dan sulit untuk konsisten. Namun dengan kehadiran orang-orang yang aku sayangi, aku percaya aku pasti bisa melakukannya.

Ngomong-ngomong, siapa ya jodoh saya? 🙂

Advertisements