Ini mungkin hanya sekelumit kisah dalam kehidupan, tapi mau ga mau ini membuatku merenung juga.
Sebagai mahasiswa, yang paling ditunggu-tunggu sekaligus tidak tidunggu-tunggu adalah saat KHS. Istilahnya seperti rapor untuk siswa.
Dan tentu saja, ketika nilai-nilai di KHS itu keluar, ada yang bergembira, ada yang meratap, ada yang biasa-biasa saja.
Ada yang IP 3,8 (atau lebih) bahagia, karena memang itu hasil jerih payahnya selama ini, dimana dia sampai mengorban waktu tidur dan saat-saat untuk bersosialisasi.
Ada yang IP 3,6 sedih karena teman-temannya rata-rata IP-nya 3,8, 3,9 atau 4,0
Ada yang IP 3,0 bahagia karena baginya “penting IP 3” bisa ambil 24 sks dan lulus secepatnya
Ada yang IP 3,0 sedih karena itu penurunan dari IP yang sebelumnya 3,3 (bahkan sampai berujar, “Aku ko bego banget sih?? Masa IP-ku bisa turun drastis gituh??”)
Ada yang IP 2, sekian bahagia karena sebelumnya IPnya NASAKOM (NAsib SAtu KOma)
Ada yang IPnya 2, sekian sedih karena penurunan IP dari cum laude jadi 2, sekian
dst.
Standar penerimaan mereka beda-beda, tentu saja. Maka mungkin saya harus lebih maklum, dan tidak rewel lagi karena ada saja teman yang membandingkan IP sendiri dengan IP teman-temannya yang lebih tinggi, sehingga dia frustasi (padahal IP-nya masih tergolong bagus, cum laude malah).
Saya? Ah, KHS aja masih ada yang belum keluar 🙂 Dan mungkin saya tergolong manusia-manusia cuek yang nrima berapa pun hasilnya, selama tidak dibanding2kan dengan orang laen 🙂

NB : memang standar satu orang sama orang laen bisa jadi beda. Jadi ketika itu dibandingkan, dengan ketidakseimbangan yang nyata, bukankah itu hanya akan menyakitkan diri sendiri? (entahlah. begitulah menurut saya)
Ada

Advertisements