Seperti kata Aristoteles, melampiaskan marah itu mudah, tapi marah pada orang yang tepat, situasi yang tepat, waktu yang tepat itu sungguh tidak mudah…

Dan marah yang dipendam itu sama saja menyimpan gunung berapi dalam diri sendiri, bisa menyebabkan penyakit psikis yang bisa mempengaruhi munculnya penyakit fisik juga…

Seminggu ini memang full of pressure, baik auto-pressure (liat postingan sebelumnya) maupun invisible-pressure dari luar. Ya bikin marah (tapi cuma bisa dipendem), sedih, sebel dsb. Efeknya ya gini, kadang2 bengong ga jelas, uring2an sendiri…

Padahal sebenarnya kalo ditinjau dari sudut pandang lain, ada jalan keluarnya kok. Hanya saja, memang butuh kesabaran ekstra dan ketegaran lebih untuk menghadapi semua ini. Dan tidak semua kritik itu menghancurkan. Tapi kok ya tetep aja, kritik yang membangun itu masih bikin ati panas?

Ternyata aku belum dewasa dan belum (cukup) tegar… Aku belum bisa menjadi bola pingpong yang semakin ditekan malah semakin kreatif dan bangkit menjadi yang lebih baik. Semoga saja dengan semua pengalaman ini aku tak jatuh lagi untuk yang kedua kalinya…

NB : Dirgahayu Republik Indonesia… Duh saking banyak pikirannya sampe lupa kalo sekarang udah tanggal 17. Hiks. Ingetnya ya waktu tadi pagi kok ada nasi kuning lengkap dengan hidangannya :p

Advertisements