Pagi ini, aku menemukan buku-buku berisi catatan kehidupan di masa lalu. Ya, diary berupa binder yang udah ga muat lagi karena terlalu banyak catatan di dalamnya, yang pinggirannya udah mo lepas (dulu aku isolasi malah. Sindrom malas beli binder baru. hehehe).

Saat aku membukanya, seperti kotak memori, semua berhamburan dan menyergap pikiranku, membangunkan kenangan masa lalu yang tersembunyi di balik ketidakpedulianku di masa sekarang. Ada catatan dari teman-teman seperjuangan di SMA, keluh kesah, senang sedih, saat-saatΒ  pelajaran yang membosankan sampai ditinggal main poker di belakang kelas, dan sejuta kenakalan masa SMA, catatan e-mail dan blog yang harus dikunjungi, kenangan tentangΒ  kakak kelas yang benci-benci rindu, kenangan tentang sahabat yang jadi pacar pertama..hmm gimana kabarnya sekarang ya?

Mengapa tiba-tiba aku ingin membuka catatan itu?

Mungkin karena beberapa hari yang lalu, aku bermimpi tentang seseorang yang tidak terduga. Yang aku kira sudah tidak ada cerita lagi tentang dia.

Cinta pertamaku dulu. Yang sepertinya berulang tahun hari ini (sepertinya? entahlah, aku juga hilang ingatan :p)

Berpijak dari sini, aku melihat teman-temanku yang sudah berpencar menuju jalan yang mereka pilih.

Teman-teman yang sekarang lagi PKL di luar kota. Seorang adek dan sahabat yang sekarang melanjutkan kuliah di Jerman. Seorang teman yang dulu kuliah sastra Jerman di Malang katanya September ini juga mau berangkat ke Jerman. Senior yang baru datang dari Swiss. Teman-teman IAAS yang ikut World Congress di Belarus (sudah pulang belum ya?). Seorang teman yang ingin sekali melanjutkan kuliah tetapi karena keterbatasan dana, memilih untuk menjadi penjaga toko.

Semua orang memilih jalannya sendiri. Apa yang aku lakukan sekarang? Aku malah duduk di sini, mengenang manisnya masa lalu, merenung mengapa semakin bertambahnya usia bukannya semakin dewasa malah semakin mengalami kemunduran pemikiran, masih bersikap tidak peduli akan masa depan. Aku berada di persimpangan jalan, antara beranjak dari tempat dudukku sekarang, atau tetap di sini, mempersiapkan bekal bila kesempatan itu datang. Entahlah, jalan mana yang akan aku pilih.

Advertisements