Lagi bongkar-bongkar catatan, e nemu catatan tulisan-tulisanku 2 tahun yang lalu, saat aku masih senang menulis yang mellow (sampai sekarang sih). Aku memuat tulisan ini untuk seorang teman yang sedang berjuang hingga saat ini.

Hidup itu adalah suatu pilihan. Kau bisa saja mengakhiri hidupmu saat ini dengan cara apapun, atau tetap belajar untuk menjalani hidup sebagaimana seolah-olah kematian itu datang besok.

Saat berada dalam suatu masalah, kau punya pilihan. Terseret dalam pikiran negatif dan meratapi terus-terusan, atau bergerak, berbuat sebisa mungkin untuk menyelesaikan masalah itu.

Saat berada dalam kesedihan, kau punya pilihan. Membuatnya berlarut-larut, tenggelam dalam penyesalan diri dan mengasihani diri sendiri, menutup diri dari dunia luar, mengharap belas kasihan dari orang lain, atau menyadari bahwa kesedihan itu seperti awan mendung yang sementara melindungi bumi dari sengatan mathari, dan bergerak lagi, menyongsong hari ini dengan sepenuh hati.

Saat kamu ngerasa tidak bisa apa-apa dan diam di tempat, kau punya pilihan. Keluar dari cangkang pemikiran lamamu, dan bergerak untuk revolusi, atau tenggelam dan tak pernah melangkah keluar, terkurung selama-lamanya dalam keputusasaan.

Karena hidup adalah pilihan, kau bisa saja merasa seakan waktu tak pernah berakhir, menyia-nyiakan investasi berharga yang kau dapat atau menggunakannya seefisien dan secerdas mungkin, agar investasi yang berupa waktu itu tidak sia-sia, bahkan menjadi alat yang penting dalam proses pembentukan makna hidup manusia.

Kau yang memilih jalan hidupmu, akankah menjadi telenovela atau sinetron tiada henti, atau menjadi film yang bisa menyentuh orang lain, bisa membuat orang lain bergerak untuk berubah.

Jangan pernah menyerah untuk hidup. Berpikirlah bahwa kamu bisa sembuh. Kami di sini selalu mendukung dan mendoakan untuk kesembuhanmu. Kita kan soulmate, teman 🙂

Advertisements