Setelah beberapa lama tenggelam dalam tugas setiap hari, minggu ini sudah mulai UTS. Mengurus ujian PKL cukup menguras tenaga dan pikiran juga. Belum lagi rapat beberapa kali seminggu di unit. Setiap malam terkapar di tempat tidur, padahal jam masih menunjukkan jam 8 atau 9 malam. Namun ada satu hal yang membuatku sadar akan sesuatu. Bahwa segala ketakutanku berasal dari pikiranku sendiri. Terkadang tak semuanya indah, tapi seringkali apa yang aku takutkan tidak terjadi. Padahal sebelumnya, akibat stres dan capek berkepanjangan, gangguan liver datang lagi. Alhamdulillah sekarang udah agak mendingan.

“Let it flow laa… Tak ada yang pasti, semua datang dan pergi…”

Itu yang aku tulis di shoutout FSku. Entah ada angin apa tiba-tiba seperti itu. Mungkin karena beberapa waktu lalu, pikiran dan perasaan seperti diterbangkan angin selatan, berputar-putar dalam badai, sampai kemudian ditempatkan di suatu tempat tak bernama. Tersesat, dan seringkali terjungkal karena tidak menginjak tanah. Melepaskan sesuatu, ternyata tidak semudah berbicara. Menunjukkan diri sendiri, seringkali hanya dalam angan-angan, terbungkus ego dan gengsi. Seringkali aku membutuhkan telinga untuk mendengarkan dan memperhatikan, bahu untuk menangis, genggaman tangan untuk menenangkan, dan pelukan untuk menguatkan. Tapi itu berarti aku harus menunjukkan kelemahan diri yang tak aku inginkan. Maka sekali lagi, aku menyimpan semuanya rapat-rapat, dan mengunci pintu. Tak semua orang bisa membukanya, hanya orang-orang yang bisa menerima aku apa adanya yang memiliki kuncinya. Mungkin itu kamu.

…When you walk away I count the steps that you take
Do you see how much I need you right now…
(When You’re Gone – Avril Lavigne)

Advertisements