Malam itu, kami bertemu di suatu stasiun tak bernama. Di suatu tempat dimana kami bisa duduk bersama sambil menunggu kereta tujuan masing-masing. Entah ini kebetulan atau suatu takdir, kami bisa duduk bersama dan bercerita segalanya. Seperti saat kami duduk di bangku taman atau menanti wangi gerimis tengah malam dulu.

Bersama secangkir kopi hangat, siang dan malam, masa lalu dan masa kini, waktu yang kami lalui bersama dan saat sendiri-sendiri membaur dan melayang bersama wangi kopi yang terbawa angin malam.

Ketika kereta tujuan datang, saatnya mengucapkan selamat tinggal. Atau lebih tepatnya sampai bertemu lagi?

Dia menyunggingkan senyum terbaiknya, aku memberikan senyum tulus yang tersisa. Kami saling melambaikan tangan, dan mengucapkan selamat malam.

Seperti puzzle, pecahan yang hilang sudah kembali. Namun entah keping hati siapa yang terbawa dalam saku. Yang pasti aku akan tetap menggenggam harapan yang aku miliki. Harapan untuk tetap hidup dan tetap benderang, walau saat tak kuasa meredup untuk sejenak.

“Nothing to fear for now…”

(Nothing to Fear – WSTCC)

inspired by : 30 Oktober 2008, ’till 10:30 pm.

NB : this is for you Big Sistah, edisi The Heart-Breaker :p

Advertisements