Memaafkan, ternyata tidak semudah melupakan. Melupakan, menghapuskan seseorang atau sebuah kenangan di masa lalu memang sulit, tapi memaafkan seseorang yang berbohong padaku, padahal aku sudah menaruh kepercayaan seutuhnya padanya, lebih sulit dari melupakan.
Saat melupakan, semua emosi atau perasaan yang pernah ada, lenyap tak berbekas. Jika teringat pun, hanya seperti menonton film bisu tanpa terhanyut oleh emosi. Seperti membaca buku sejarah, tanpa merasa pernah terlibat di dalamnya.
Saat harus memaafkan, perasaan tersakiti, dikhianati, dijatuhkan dari langit, dihancurkan berkeping-keping menjadi satu. Emosi yang menghalangiku untuk memaafkannya. Tapi ketika emosi itu terus menyakitiku, mau tak mau aku harus merelakannya. Memandangnya dari sisi yang lain, menenangkan diri, dan memaafkan dengan senyum yang tulus. Merekatkan kembali hati yang jatuh berkeping-keping, sendiri.
Aku bisa memaafkanmu, tapi aku tak pernah bisa melupakan yang pernah terjadi, berikut dengan emosi yang aku rasakan saat itu.
Maaf. Aku bukan malaikat, aku hanya manusia biasa.

12:11. bersama secangkir teh panas.

Advertisements