Sebuah bintang berpendar redup, tenggelam dalam mendung pekat kelabu malam ini.

“Apa yang kamu lihat, Aya?”

suara teduh dalam pikirannya bertanya padanya.
Aya, menunjuk satu bintang yang sedari tadi ia tatap dengan penuh kerinduan.

“Ada yang pernah berkata, jika aku merindukan dia, tataplah ke langit dan lihatlah bintang di sana. Aku ingin bertanya, adakah bintang itu rindu untuk mendekat?”

Suara teduh itu terdiam sesaat, kemudian berkata,

“Aku juga tak tahu. Adakah kau merasa lelah dan gundah malam ini?”

Aya tersenyum tipis, tak menjawab. Samar sebuah lagu mengalun dari bibirnya,

Lights will guide you back home
And dawn will gives you rain
I can see it clearly
The tears that flow inside

Are you looking for a raincoat for the storm?
Do you feel so insure?
Will you hold me for one time
give me chance
To give you back the sunshine
Give you back the sunshine

You seems so tired
You seems so quiet
You seems so tired, weak and insecure
Leave it all
Leave it all behind

(Everyday Starts at Midnight – The Morning After)

Tiba-tiba ia teringat sepotong kalimat yang pernah dituliskan untuknya. Senyumnya mengembang, lentera hatinya yang mulai redup kembali terang.

Tersenyumlah untukku, karena senyummu adalah kebahagiaanku.”

Advertisements