Ketika Aku Memandang Orang Lain.

Saat aku memandang orang lain, aku melihat mereka di atasku. Ketika ada seseorang yang tampil cemerlang dan dipuji-puji karena memang jerih payahnya, aku kagum padanya. Saat ada seseorang yang tampil cemerlang bagaikan bintang tapi posisinya saat ini didapat karena menginjak orang lain, aku heran padanya. Tak bisakah ia melakukan kompromi dengan orang yang diinjaknya, bukan karena ambisi pribadi? Ataukah ia tak menyadari bahwa dia menginjak orang lain, dan orang yang diinjak pun hanya terdiam dan memendam amarah dalam dirinya sendiri? Siapa yang salah disini, orang yang menginjak tanpa perasaan bersalah, atau diinjak tapi diam saja?

Manusia itu tak ada yang hidup sebagai hitam atau putih seluruhnya. Semua orang itu abu-abu, terkadang lebih gelap dari biasanya, terkadang lebih terang dari sebelumnya. Aku mengenal mereka yang berjuang dengan jerih payahnya sendiri, dan aku juga mengenal mereka yang berjuang dengan menginjak orang lain. Aku mengenal sisi terang dan gelap mereka, serupa mereka yang mengenal sisi terang dan gelapku.

Mungkin aku juga salah satu dari orang yang menginjak orang lain tanpa perasaan bersalah, karena aku memang tidak menyadarinya. Maka jika aku salah dan tanpa sengaja menginjakmu, ingatkan aku untuk mengangkatmu dan menopangmu sehingga kita berada di posisi yang sejajar, dimana semua pihak menang dan tak ada yang terabaikan.

Remember, remember… kurangi gerutuanmu dan galilah potensimu, kalahkan orang yang menginjakmu atau menginjak orang lain, buktikan bahwa kamu juga mampu untuk bersaing dan berada sejajar di posisinya.

Advertisements

6 thoughts on “Ketika Aku Memandang Orang Lain.

  1. Makasih atas nasihatnya lewat postingan ini, dek hehehe. Iya, mari kita sama2, mensejajarkan diri, saling mengingatkan bila salah satu dari kita tertawa di atas penderitaan orang lain…sukses di atas pijakan pundak orang lain…

  2. luwar biyasa dahsyat™

    setiap insan yg terlahir pasti disertai potensi. namun yg seringkali, kita tidak menyadari dan tidak tahu dengan potensi itu, bahkan yg kadang kala salah, kita menyalahkan sang Rabb.

    Mudah2an kita termasuk orang2 yg beruntung..

    1. amiin…

      seperti memandang dengan kacamata, kalo penglihatan terlihat sempit coba ganti kacamata lain, sapa tau penglihatannya jadi berbeda dan lebih berwarna dari sebelumnya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s