2 Desember 2009

Saat kamu sudah berada di ujung jalan, tiba-tiba kamu berpikir, apakah kamu mengambil jalan yang benar? tak ada jalan kembali, yang ada kamu terjun, atau mengambil jalan baru dan memulai dari nol…

setelah 4 tahun mengikuti arus, terhempas oleh badai, beteduh di ujung pelangi, menari dalam hujan, aku sudah berada di ujung jalan. tiba-tiba terbesit pertanyaan, apakah aku sudah mengambil jalan yang aku inginkan?
aku yang lebih mudah membaca orang lain daripada membaca angka,
yang waktu sekolah nilai bahasa dua kali lipat dari nilai eksak,
yang bisa menulis esai dalam waktu satu jam sedangkan mengolah data butuh revisi lebih dari 5 kali (maaf bu dosen, mungkin Anda sudah bosan melihat saya),
yang memiliki mimpi jauh dari ilmu yang aku ambil sekarang.

atau mungkin,
ini hanyalah alasan pengecut untuk mundur dan putus asa,
yang bahkan berpikir bagaimana rasanya terjun dari lantai 5 (maaf hanya imajinasi saja),
yang dengan naifnya berkata tak bisa padahal terjatuh berkali-kali saja belum cukup…

Tuhan, dimana Kau titipkan jawaban?

Aku merasa seperti sebuah cangkir dengan isi yang penuh, semakin dipaksa diisi dengan air, isinya meluber tak tertampung lagi. Jika aku ingin mengisinya dengan air, maka yang perlu dilakukan adalah mengosongkan cangkir tersebut…

Advertisements