Di ujung jalan, aku dihadapkan oleh jurang yang tak terlihat dasarnya. Gelap, terlihat dingin dan sunyi. Aku menggigil, gemetar membayangkan apa yang terjadi bila aku terjatuh. Tapi yang paling aku takutkan adalah saat aku terjatuh tanpa ada seorang pun yang tahu. Tenggelam dalam keabadian.

Ya, aku takut. Takut pada jalan yang tak terlihat, yang berujung pada jurang yang gelap dan sunyi. Kupejamkan mata, mencari cahaya dalam gelap tak terkira.

Samar-samar aku teringat pada seseorang. Ia pernah berkata padaku, “…Lakukan saja apa yang ada sepanjang itu baik, selalu terbuka, dan jangan berhenti berbuat. Cita-cita, mimpi, dan angan-angan itu adalah sebuah gambar abstrak. Dan berbuat itu berarti kamu memainkan kuas diatas kertas hingga pada suatu saat nanti kamu akan tahu bahwa tanpa sadar gambar itu telah menjadi nyata pada saat yang tepat. Karena pada saat kamu berhenti berbuat itulah cita-cita, mimpi, dan angan-angan itu juga akan terhenti tergambar…”

Aku tersenyum samar, merangkai kembali patronus yang tersimpan dalam kotak kenangan. Indah, menyenangkan, dan mengisi lubang kosong yang tertinggal dalam hati.

“Menurutku, di dalam hidup berkembangnya kita sebagai manusia adalah hal yang paling penting. Dalam hidup kita bertemu bermacam-macam orang dan mengalami berbagai peristiwa. Dengan melewati berbagai hal, kita menjadi dewasa.

…kalau sekarang jalan di depan kita masih belum terlihat, asalkan ada keinginan di dalam diri kita untuk terus berkembang, suatu saat jalan itu pasti akan terlihat.” (Happy Cafe 11).

Aku mungkin tak tahu pasti kemana kaki kecil ini melangkah, tapi aku tak lagi ragu untuk melangkah, karena selalu ada cahaya penerang yang menemaniku pergi. Dan aku yakin, setiap orang memiliki cahaya penerang yang selalu mengingatkan, bahwa mereka tak pernah sendiri…

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

Advertisements