Ya Allah,

Maafkan aku yang tak mensyukuri nikmat yang Kau beri, padahal jika aku memandang langit biru yang cerah, segala hal yang baik di sekitarku, segala hal yang masih kumiliki dan berfungsi dengan baik, sesungguhnya tak pantas aku menyia-nyiakan semua itu dan berkeluh kesah karenanya.

Lagu “Forget Jakarta” milik Adhitia Sofyan menyadarkanku bahwa sebenarnya kenyataan tidak seburuk itu. Pikirankulah yang membentuk suasana hati jadi buruk. Segalanya ada di tanganku, dan jujur saja, itu membuatku takut, sekaligus bersemangat untuk bekerja. Jika gagal, bukan orang lain atau situasi yang patut disalahkan, tapi aku sendiri yang melalaikan dan melupakan hal yang penting.

Waktu datang, bergulir, tanpa ada tekanan untuk datang lebih awal atau lebih lambat. Waktu itu sendiri berjalan, tak peduli manusia akan bersyukur atau memaki. Dan pada akhirnya, kembali pada manusia itu sendiri, akankah hanya diam, tak berbuat apa-apa dan hanya bisa mengeluh ini itu, atau bergegas mengikuti waktu itu sendiri, membuka semangat pagi dengan bersyukur dan tersenyum bahwa hari ini masih ada kesempatan untuk melakukan hal-hal yang terbaik.

Ya Allah,
Saat aku lelah, bolehkah aku bersandar pada-Mu?

tea for two. in between, a glass of water 😀

Advertisements