Toleransi.

Tanggal 10 Februari kemarin, saat menunggu hujan reda, aku duduk di kursi pengunjung pameran buku islam di alun-alun Tugu. Ada kajian tentang valentine day. Aku tak terlalu tertarik, karena dimana-mana bahasannya selalu sama, bahwa valentine day bukanlah hari kasih sayang, tapi hari pelampiasan nafsu dan sebagainya dan sebagainya. Maaf untuk yang tidak berkenan, karena memang buatku perayaan valentine day hanya cocok untuk abege saja (rasanya setelah menginjak usia kepala dua, sudah malu kalau masih dibilang abege :p), dan setelah masa abege labil sudah berlalu, yang namanya perayaan ini itu sudah seperti hari-hari biasa saja.

Tapi yang membuatku tergelitik adalah penceramah yang notabene aktivis itu begitu bersemangat dan suaranya di atas batas normal (jadi aku menutup telinga tadi bukan karena tak mau mendengar, tapi semata-mata menjaga pendengaranku saja, karena kebetulan tempat aku duduk dekat dengan sound system). Beliau sepertinya berpendapat semua orang dipandang sama, hanya ada hitam dan putih, tak ada abu-abu. Beliau menentang pendapat, “semua agama itu baik, semua agama itu sama,” yang dianggapnya itu adalah suatu kebohongan besar. Dan yang mengecewakan, beliau mengkritik seseorang yang meninggalkan tempat duduknya dan kebetulan saat itu sedang membawa bunga mawar, beliau berkata, “inget ya mbak, valentine itu ajang maksiat,” padahal bisa saja orang yang sedang membawa mawar itu ingin menghadiahkan bunga pada ibunya atau untuk dekorasi di sekolahnya. Bagiku, ucapan beliau barusan bukannya membuatku sadar malah membuatku kecewa. Bukan karena tidak terima valentine dibilang ajang maksiat, tapi karena tanpa mengenal orang yang bersangkutan, beliau sudah menuduh yang tidak-tidak di depan umum.

Bagiku yang sejak menginjak bangku sekolah telah memiliki sahabat-sahabat dengan beda keyakinan, dengan segala toleransi yang tetap berpijak pada batasan-batasan tertentu, kami bisa menjalin hubungan yang baik dan erat, tanpa ikut campur urusan agama satu sama lain. Kami tak pernah berdebat siapa yang benar dan siapa yang salah, karena kami memiliki pandangan yang berbeda, dari sudut pandang yang berbeda, yang tak bisa dibandingkan begitu saja tanpa menyamakan visi sebelumnya. Mengambil sepotong ayat tanpa membaca ayat lain yang menjelaskan lebih lanjut sama saja menelan simbol mentah-mentah, tanpa memahami pesan di baliknya. Aku memang bukan orang yang paham soal agama, tapi bagiku, urusan iman itu adalah urusan hamba dengan Tuhannya, dan urusan antar penganutnya adalah hubungan sosial untuk kehidupan yang lebih baik dan saling melengkapi satu sama lain.

Urusan mencampur-adukkan antara urusan hamba-Tuhan dengan urusan-antar-penganut dengan nama “memaksakan kehendak agama pada orang lain” itu sudah di luar kemampuanku untuk berbicara, karena tergelincir sedikit saja bisa-bisa berujung pada pertikaian (daripada ntar ujung-ujungnya SARA). Lagipula di luar sana ada orang yang lebih mengerti agama daripada saya yang mungkin bisa menjelaskan bagaimana posisi kita sebagai masyarakat Indonesia yang memiliki banyak keragaman yang tak hanya berupa agama 🙂

Mohon maaf sebelumnya jika ada yang tak berkenan, dan selamat berakhir pekan, selamat merayakan Tahun Baru Cina bagi yang merayakan (Valentine? Sama aja dengan hari biasa :D)

Advertisements

4 thoughts on “Toleransi.

  1. alun-alun tugu? 😕 alun-alun lor kah? dimanakah setting lokasinya? 😕

    btw, temen2 saya multi-reliji, koq. jadi untuk bersifat offensif gitu kayaqnya nggak etis koq. karena bunyinya adalah laqum diinukum waliyaddiin, mangkanya saya enggak pernah memperkarakan urusan kepercayaan kalo enggak dipancing dulu buat berurusan soal itu. soal beragama, itu hak asasi yang paling asasi, jadi yaa resikonya bisa nyangkut ke kasuistik berbau SARA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s