Dalam sebuah percakapan menjelang tengah malam, dia bertanya padaku,

“Selama ini, adakah hal-hal yang membuatmu tak nyaman saat melangkah bersamaku?”

Dan aku pun menyodorkan sekotak keluh kesah yang terucap maupun tak terucap sebelumnya, tentang perhatian yang terkadang mengudara sia-sia, tentang perhatian orang lain yang tak diinginkan, tentang pertemuan yang hanya terjadi 3 pekan sekali, dan sebagainya.

Dia tersenyum, dan meminta maaf. Aku menanyakan hal yang sama. Dia menjawab,

“Tak ada. Tapi memang ada yang kurang…”

Aku mengernyitkan dahi, mencoba menebak apa kata-kata selanjutnya.

“Pertemuan. Aku rindu kamu.”

Dan begitulah percakapan berakhir, karena aku tak bisa membalas kata-katanya yang tanpa disadarinya membuatku ngilu. Membuatku teringat pada pertemuan yang terlewatkan dan apa yang aku lakukan selama itu. Dulu, saat aku merindukannya, aku menulis surat dan puisi, lalu menyimpannya untuk diriku sendiri. Tapi sekarang, aku seperti lupa bagaimana cara menulis rindu dalam kata-kata.

Terima kasih telah menyadarkanku, semoga tidurmu nyenyak semalam setelah aku menyanyikan lagu pengantar tidur untukmu.

Seperti gerimis di tengah malam. Puitis dan melankonis (haha).

Advertisements