Kemarin, seorang sahabat yang sudah lama tak bertemu datang mengunjungi. Acara bersenang-senang dengan sahabat, yang sekiranya ditujukan untuk mengusir stress malah jadi ajang ‘pengakuan-dosa’.

And the drama queen’s confession begins…

Ujung-ujungnya malah jadi murung seharian, sibuk dengan pikiran masing-masing. We eat and talk for a while. Makan siang-menjelang-sore pun dilalui dengan keheningan, yang syukurlah tanpa gangguan ponsel, sehingga cukuplah kami disibukkan dengan pikiran masing-masing. Kami, membawa dunia dan persoalan masing-masing, berjalan bersama tapi pikiran kami tidak ada di tempat yang sama. Yang memenuhi pikiranku adalah skenario terburuk yang mungkin terjadi saat aku mengakui kesalahanku pada orang yang kusayangi, dan bagaimana caranya aku menghadapinya.

Padahal semua belum terjadi. Dan aku juga tak bisa meramal apa yang akan terjadi di masa depan. Saat itu, yang terpikirkan olehku malah skenario masa depan dimana hal-hal terburuk terjadi. Hal ini membuatku galau sepanjang hari. Aku sudah bertekad bulat untuk menghadapi masalahku ini. Tapi saat itu juga, aku seperti ditahan untuk tidak melakukannya saat ini, dan pada saat itu ada orang lain yang membutuhkan bantuanku.

Apakah ini cara-Nya untuk menyadarkanku bahwa aku tak sendirian? Aku akui sebelum itu pikiranku dipenuhi dengan hal-hal buruk. Dan ternyata apa yang kukatakan pada orang tersebut seperti menampar diriku sendiri.

”Follow your heart, but don’t

forget to bring your brain.”

Apakah ini jawaban dari-Nya? Ia menunjukkan jawaban yang sebenarnya ada dalam diriku sendiri, hanya saja kabut tebal menutupnya sehingga aku sendiri tak bisa melihatnya.

Saat ada masalah… cobalah diam sejenak. Bisa jadi jawabannya sudah ada, hanya saja kamu belum melihatnya…

gambar dari sini

Advertisements