Terima kasih Tuhan,

Untuk pengingat yang selalu berbicara apa adanya: hati nurani.

Dan membuatku sadar bahwa hidup dan emosi itu sama: kadang pasang, kadang surut.

Bahwa hidup itu tak bisa sepenuhnya hitam dan putih. Malah lebih banyak abu-abu di sana-sini.

Bahwa hidup itu adalah tentang jatuh, bangkit, jatuh, dan bangkit lagi.

Bahwa hidup itu bisa berarti jujur, bohong demi kebaikan, bohong untuk perlindungan, gengsi demi harga diri, manipulasi, rahasia yang harus disimpan, keburukan yang harus diucapkan di muka, keburukan yang cukup disimpan untuk diri sendiri, keburukan yang harus diterima tanpa harus dipahami lebih lanjut.

Seperti sejarah, bisa jadi roda yang berputar, kadang maju lebih jauh, jalan di tempat, atau malah mundur teratur. Kadang mudah dipahami, tapi seringkali sulit dimengerti.

Satu tambah satu sekarang tidak harus sama dengan dua. Dia bisa jadi sebelas, atau malah jadi nol, tergantung dari sudut mana yang melihat, mendengar, dan berpikir.

Rumit? Bisa jadi ya, bisa jadi tidak. Semua menjadi relatif, bahkan untuk urusan kebenaran.

Tapi saat ini, biarlah semua berjalan sesuai waktunya. Ada waktu menanam, ada waktu untuk menuai. Ada waktu untuk bersenang-senang, dan ada waktu untuk bersedih. Ada waktu untuk mengerti, dan ada waktu untuk bingung sendiri πŸ™‚ Selamat malam, selamat bermimpi.

“No matter how cold the winter, there’s a spring time ahead.” (Eddie Vedder)

Advertisements