Sebenarnya sudah lama saya ingin baca buku ini, karena jatuh cinta pada foto covernya. Dan ternyata, cover tidak menipu. Saya terpikat pada ceritanya yang mengalir, terkadang sinis, terkadang menggelitik, tapi juga menyadarkan kalau KDKRT, bisa terjadi pada siapa saja, bukan berdasar stereotip bahwa yang rentan mengalami KDKRT hanyalah wanita miskin dan berpendidikan rendah… Mengutip dari back covernya,

It could happen to you. It could happen to anybody.”


(gambar dari sini)

Tea for Two bercerita tentang kehidupan Sassy, pemilik perusahaan mak comblang “Tea for Two” yang bertugas untuk mempertemukan dua orang yang awalnya saling tak mengenal untuk satu tujuan yaitu pernikahan. Baginya, perusahaan itu adalah bagian dari dirinya, dan juga menjadi perantara pertemuannya dengan Alan, suaminya. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama. Alan yang sangat romantis di awal hubungan mereka membuat Sassy luluh juga, walau terkadang ada hal-hal yang menggelitik akal sehatnya. Tak lama kemudian Alan melamar Sassy, dan tentu saja Sassy menerimanya.

“And they happily ever after…”

Benarkah demikian? Kata orang, pernikahan itu bukan akhir dari segalanya, tapi justru awal dari segalanya, karena ini adalah menyatukan kehidupan dua orang yang berbeda dalam satu atap. Gesekan-gesekan emosi yang berujung pada kekerasan fisik, tak pernah terbayang di dalam pikiran Sassy. Hal-hal yang dulu menggelitik akal sehatnya, kini terpampang jelas di hadapannya. Kekejaman Alan terus berlanjut, bahkan hingga Emma lahir. Bagi Alan, Sassy selalu salah dan selalu ada yang salah dalam dirinya. Sassy tak mengerti, haruskah ia tetap bertahan demi cinta dan trauma masa lalunya, atau meninggalkan Alan demi hidupnya sendiri. Hingga akhirnya kebohongan demi kebohongan Alan pun terungkap…

Mau tak mau, Sassy harus melanjutkan hidupnya. Sassy bersyukur, di saat terburuk sekalipun, keluarga, para sahabat, dan teman-teman barunya di Rumah Manis ada dan terus mendukungnya. Sassy ingin mengenal dirinya sendiri seperti dulu sebelum dia menikah, dia yang memiliki rasa percaya diri, cita-cita, penuh semangat, dan berbahagia.

“…Dulu saya perempuan yang menatap pernikahan dengan kacamata yang berbeda. Kini, walaupun membutuhkan waktu cukup lama untuk menyadari hubungan berbahaya yang mengancam dalam pernikahan, saya akhirnya berani menjadi manusia yang sungguh berbeda. Saya bermetamorfosa.

Mengapa terjadi perubahan?

Tata surya berubah.

Mengapa terjadi perubahan?

Mungkin lengan Tuhan terkadang kesemutan saat Dia menopang kehidupan. Lalu hidup pun menjadi tidak semantap yang selalu kita inginkan.”  (hal.300)

Advertisements