Buku ini saya pinjam dari Perpustakaan Kota Malang, terjemahan tahun 2006, dan baru saya selesai baca hampir seminggu. Beda dari buku sebelumnya yang bisa habis dalam tempo 1 hari. Sebabnya? Walau dari segi ketebalan hampir sama, namun ukurannya lebih besar dan otomatis lebih banyak kata-kata. Kedua, penceritaannya butuh konsentrasi dan imajinasi karena penggambarannya secara mendetail untuk hampir setiap kalimat. Jadi tentu saja, butuh waktu lebih lama untuk membaca, dan harus dibaca berulang kali untuk memahami ceritanya kalau sedang tidak konsentrasi.

gambar dari sini

Buku ini bercerita tentang Kwan, kakak perempuan dari Olivia, yang penceritaannya menggunakan sudut pandang Olivia, kecuali saat Kwan sendiri yang berbicara (yang kadang-kadang membingungkan  siapa yang berbicara, apakah Olivia atau Kwan, kalau tidak memperhatikan dan membaca pengantar sebelumnya yang kadang-kadang tidak ada).

Kwan, percaya ia punya mata yin. Ia mampu melihat arwah orang yang sudah meninggal dan sekarang menghuni Dunia Yin. Dimulai dari pertemuan Kwan dan Olivia, kakak tirinya. Kwan adalah saudara lain ibu, dari ayah yang sama, ayah dari China. Mereka bertemu ketika usia Olivia hampir enam tahun, dimana Kwan terbang dari China ke San Fransisco, tempat Olivia dan keluarganya yang akan menampungnya berada. Sejak saat itu hidup Olivia berubah. Bagi ibunya, Kwan adalah baby-sitter yang terampil, penurut, andal dan gratis. Bagi Olivia, Kwan adalah pengganggu yang menempel terus dan ikut kemanapun ia pergi.

“Sudah sepatutnya aku berterima kasih pada Kwan. Aku selalu bisa mengandalkannya. Tak ada yang lebih disukainya daripada berada di dekatku. Tapi aku malah hampir selalu merasa kesal padanya karena mengambil alih tempat ibuku.” (hal. 19)

Cerita bergulir, Kwan yang dirawat di rumah sakit jiwa karena Olivia menyampaikan rahasia Kwan, yaitu soal mata yin Kwan. Namun hingga saat ini tak pernah sekalipun Kwan mempersalahkannya atas kejadian itu. Kwan kini sudah hampir 50 tahun, sedangkan Olivia 12 tahun lebih muda darinya, dan Kwan masih tetap saja memanggilnya Libby-ah, tak pernah marah padanya, dan membuat Olivia merasa bersalah selamanya.

Dalam bulan-bulan terakhir, Olivia harus menghadapi kenyataan bahwa perkawinannya dengan Simon akan berakhir. Dan selama itu pula, Kwan selalu berusaha agar Olivia tak bercerai dengan Simon, entah kenapa. Selain itu, Kwan selalu saja bercerita tentang mimpi-mimpinya, terutama tentang dirinya di kehidupan sebelumnya di sekitar tahun 1864 (yang kemudian akan mendominasi cerita hingga menjelang akhir). Dirinya sebagai Nunumu, tentang Nona Banner, Rumah Saudagar Hantu, Jenderal Cape, tempat tinggalnya di Changmian, Yiban, Lao Lu, Pendeta Amin,Ny. Amin, Nona Tikus, Dr. Terlambat, Zeng, para serdadu Manchu yang menyerang Changmian atau malah cerita Kwan tentang Buncake, yang tertukar jiwanya sehingga Kwan, hingga saat ini menghuni tubuh Buncake, sedangkan tubuh Kwan sendiri sudah dikubur karena dianggap mati tenggelam.

Cerita berputar sekitar kehidupan sebelumnya Kwan, pertengkaran Olivia dan Simon, kembali ke mimpi Kwan, tentang ibu Olivia, kembali ke cerita Kwan, kemudian cerita tentang pertemuan Olivia dan Simon 17 tahun yang lalu, kembali ke cerita Kwan, dan seterusnya hingga perjalanan Olivia, Simon dan Kwan ke Changmian yang berujung hilangnya Kwan selamanya.

Ceritanya sarat dengan keraguan Olivia terhadap cerita Kwan, terutama terkait dengan mata yin-nya. Sebagai orang Amerika, dia menolak mempercayai sesuatu yang tak bisa dilihatnya, atau bertentangan dengan logikanya. Seumur hidupnya ia menolak mempercayai khayalan-khayalan Kwan, meragukan kemampuannya dalam melihat hantu, dan seratus indra rahasianya. Apa itu indra rahasia?

“Ah! Aku sudah begitu sering bilang padamu! Kau tidak mendengarkan? Indra rahasia sebenarnya bukan rahasia. Kita bilang rahasia, sebab semua orang punya, Cuma lupa. Indra sama seperti kaki semut, belalai gajah, kulit kerang, lidah ular, atau benang sari bunga. Banyak hal, tapi digabung jadi satu.”

“Bagaimana aku bisa menjelaskan? Mengenang, melihat, mendengar, merasa, semua datang bersamaan, maka kau tahu dalah hati sesuatu itu benar. Seperti salah satu rasa, aku tidak tahu cara mengatakannya, misalnya rasa menggelitik. Kau tahu ini: tulang tergelitik mungkin akan turun hujan, ingatan jadi segar. Kulit lengan tergelitik, ada sesuatu yang menakutkanmu, mengepungmu, kulitmu bisa merinding. Ubun-ubun tergelitik, oh-oh, sekarang kau tahu sesuatu itu benar, lalu merembes ke hatimu, tapi kau masih belum mau percaya. Selain itu bulu dalam hidungmu juga bisa tergelitik. Kulit di bawah lengan merasa tergelitik. Rasa tergelitik di belakang otakmu – kalau kau tidak berhati-hati dengan yang satu ini, kau akan dapat celaka besar, mm-hm. Gunakan indra rahasiamu, kadang-kadang kau bisa dapat pesan bolak-balik dengan cepat di antara dua orang yang hidup, yang mati, tidak jadi masalah, indranya sama.” (hal.124)

Namun walau Olivia tak pernah menyukai kehadiran Kwan, Olivia diam-diam bersyukur karena memiliki kakak seperti Kwan. Hal itu baru disadarinya saat ia berpikir ia sudah kehilangan seluruh cinta dalam hidupnya, Kwan-lah yang mengajarinya menemukan kebahagiaan, menggunakan seratus indra rahasia. Sayangnya, ia baru menyadarinya saat Kwan menghilang. Seperti kata orang, kamu baru merasa seseorang itu begitu berharga setelah dia pergi…

Advertisements