[review] Abarat (Clive Barker, 2002)

Sebuah cerita petualangan, yang mengingatkanku pada Harry Potter atau Eragon, dengan detail di hampir seluruh kalimatnya, menuntunku untuk berimajinasi tentang sebuah dunia lain bernama Abarat. Dan ini adalah seri pertamanya…

gambar dari sini

Peristiwanya berawal dari Chickentown, sebuah kota di Minnesota, yang populasi ayamnya lebih besar daripada populasi penduduknya. Di sinilah Candy Quackenbush tinggal, dan hampir mati kebosanan karenanya. Ia memutuskan untuk mengikuti kata hatinya, pergi ke ujung Lincoln Street, membawa dirinya ke padang rumput yang luas, dimana ada semacam kerangka sebuah menara yang berdiri di tengah belantara rerumputan dan bunga-bunga. Ia bertemu dengan John Mischief (yang mempunyai 7 saudara yang tinggal di tanduk-tanduk kepalanya), dikejar Mendelson Shape, munculnya laut Izabella, dan membawa Candy ke dunia lain: Abarat.

Abarat adalah kepulauan luas yang tiap pulaunya memiliki jam berbeda. Pulau Nonce pada Jam Tiga Siang, Pulau Yebba Dim Day pada Jam Delapan Malam, Pulau Ninnyhammer pada Jam 10 Malam, hingga Pulau Gorgossium pada Jam Tengah Malam. Candy berpindah dari satu tempat ke tempat lain, diincar oleh Cristopher Carrion, Pangeran Tengah Malam yang suka meneror orang dengan mimpi-mimpi buruk, mendapatkan teman-teman baru dan musuh-musuh aneh – serangga bermesin, kupu-kupu raksasa, kucing belang, manusia lumpur, tukang sihir kerdil bertopi dan budaknya, laki-laki bermantel biru dan setelan bintik-bintik si pembuat Almenak Klepp, Tiga Bersaudari Fantomaya, Fugit Bersaudara yang bagian-bagian wajahnya bergerak mengitari wajahnya… hingga perjalanannya menuju Pulau Jam Malam, yang bersambung ke buku kedua…

Tak hanya bercerita tentang Candy, buku ini juga bercerita tentang John Mischief dan upayanya dalam bertemu kembali dengan Candy dan mengambil kunci yang dititipkannya pada Candy. Yang menarik disini adalah ilustrasi berwarna yang menyertai ceritanya, seperti dalam buku dongeng bergambar. Disertakan juga Almenak Klepp yang diceritakan sebelumnya, yaitu sejenis pamflet informasi tentang pulau-pulau di Abarat, dan mengingatkanku pada Harry Potter dan aturan main Quidditch-nya.

Advertisements

5 thoughts on “[review] Abarat (Clive Barker, 2002)

  1. IMO, kisah seperti ini mengingatkan saya akan karya-karya imajinasi Neil Gaiman. jaman-jaman smp/sma dulu saya menikmati tema2 seperti ini. tapi sekarang saya strict banget sama tematik novel πŸ˜›

    anw, saya juga punya buku novel bertema seperti ini, dan baru saya baca1-2 halaman depannya saja =))

    1. sebenarnya yang membuat saya tertarik adalah ilustrasinya yang bewarna, mengingatkan saya pada jaman anak-anak πŸ™‚

      untuk ceritanya sendiri memang temanya petualangan, dengan tipe yang sebelumnya manusia biasa jadi pahlawan di dunia lain, from zero to hero. klise memang, tapi mungkin itu yang disukai orang-orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s