Aku mencium aroma hujan.
Apa hujan memang memiliki aroma tersendiri?
Ah sepertinya aku salah mengartikan aroma hujan dengan aroma tanah yang tersentuh olehnya.
Tak apa, toh pada akhirnya aku merindukannya juga.
Seperti sensasi dingin yang menjalar dari ujung jari tangan dan kaki ke seluruh tubuh.
Dan warna kelabu menjadi satu-satunya warna sebelum pelangi tiba.
Tapi kemarin aku melihat hujan dalam terang.
Yang terlihat seperti apa yang selama ini aku lihat di balik layar kaca, dalam kotak ajaib yang bisa berbicara.
Mungkin muncul pelangi, mungkin tidak.

Aku merindukan sesuatu.
Sesuatu yang pernah aku temui di masa lalu.
Sesuatu itu adalah aku.
Yang seolah-olah lupa akan sindiran, kata-kata buruk dari belakang, gosip-gosip murahan, dan segala sesuatu yang membuatku jadi penakut, dan kemudian lari terbirit-birit dari kenyataan.
Aku yang sekarang, masih menjadi penonton kehidupanku dan kehidupan orang lain.
Duduk manis, mengunyah camilan, sambil terkadang memaki dan memuji apa yang aku tonton.
Dan masih tak bisa memutuskan akan melangkah kemana.
Orang berkata, ”Raih mimpimu!”
Aku bertanya, ”Mimpi yang mana? Aku sudah lupa.”
Sebenarnya tidak benar-benar lupa, hanya terselip entah kemana, menjejali kotak ingatan bersama mimpi-mimpi kecil lain yang tak kunjung dikabulkan.

Advertisements