Perahu Kertas

gambar dari sini

Judulnya dan sampulnya bagus, jalan ceritanya juga bisa dinikmati dengan mudah, intinya adalah penjelmaan dari drama Korea dengan frase “Kalo jodoh ga kemana”. Kadang-kadang tidak rasional (tapi kalau dijabarkan mungkin kesannya bertele-tele), sedikit memaksa terutama endingnya yang reminds-me-of-Boys Before Flower. Lebih ringan, tanpa kehilangan daya tariknya yang nendang. Daya tariknya tentu saja ada pada pemilihan katanya yang jenaka, terkadang membuat orang kepikiran tapi masih bisa dipahami orang awam. Klise, tapi inilah yang diinginkan orang-orang. Buat saya, buku ini seperti es buah yang menyegarkan. Rasanya begitu-begitu saja tapi cocok dinikmati saat bersantai sambil nonton drama korea yang ceria, misalnya Full House πŸ˜€

NB : Saya tidak akan membandingkannya dengan buku-buku sebelumnya, karena genre-nya sudah berbeda. Buku ini mungkin cocok bagi pecinta novel teen-lit, tapi tidak untuk pecinta Supernova series πŸ™‚

200 pounds Beauty

gambar dari sini

Film korea yang sempat menarik perhatian karena temanya operasi plastik yang sudah menjadi hal biasa di Korea Selatan. Hanna, wanita gemuk tapi memiliki suara yang sangat indah. Penampilannya tentu tidak bisa membuatnya menjadi penyanyi disana. Itulah mengapa dia menyanyi di belakang panggung untuk pop star Ammy. Hanna sendiri jatuh cinta dengan Sang-jun, produser Ammy. Tapi suatu ketika Hanna secara tidak sengaja mendengar percakapan Sang-jun dengan Ammy, dimana Sang-jun berkata buruk tentang penampilannya dan hanya karena Hanna memiliki suara yang bagus makanya Hanna tetap dipertahankan. Hanna patah hati dan memutuskan bunuh diri, tapi gagal. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke dokter bedah plastik , dan selama setahun menghilang dari peredaran sehingga Ammy pun tidak bisa muncul sebagai popstar karena tidak ada yang menggantikannya menyanyi.

Setahun kemudian, jeng jeng muncullah Hanna dengan penampilannya yang baru dengan nama Jenny. Dia mengikuti audisi mencari pengganti Hanna untuk menjadi penyanyi belakang panggung untuk Ammy. Suaranya yang merdu membuat Sang-jun terkesima dan memutuskan mengorbitkan Jenny sebagai penyanyi berikutnya. Sambutannya meriah, Ammy sirik, terjadi konflik dengan sahabat dan ayahnya, dan seterusnya…

Ceritanya mengingatkan saya pada obsesi wanita Korea saat ini, pada operasi plastik untuk mendapatkan mata yang lebih besar, hidung yang lebih mancung, kaki yang lebih jenjang, seperti idola mereka. Pria-pria yang berpikir bahwa tidak apa-apa wanita melakukan operasi plastik, selama itu bukan pacarnya (ha!).

Pada awalnya ceritanya lucu, mudah dipahami, tapi menengah sampai ending jalan ceritanya malah kabur. Ada hal-hal yang ga logis, tapi mungkin memang sengaja tidak dijelaskan karena tidak berperan besar di dalam cerita. Yang membuat saya tersentuh justru saat Hanna (atau Jenny) menyanyi ”Byul” saat audisi, suaranya yang powerful membuatku merinding! Scene lain adalah dimana ayah Hanna memaksakan diri untuk datang ke konser Jenny dan nyaris diusir petugas keamanan karena mengacaukan acara.

Sayangnya, saya tak menangkap inti cerita yang (sepertinya) berisi ’pada akhirnya inner beauty yang bertahan’. Temanku balik bertanya, ”Pada akhirnya Hanna terkenal dan dicintai saat dia berwujud langsing kan? Bagaimana jika Hanna kembali ke wujud semula, apa para fansnya tetap menyukainya dan Sang-jun tetap mencintainya?” Big question, even I don’t know the answer…

Advertisements