Sudah lama saya tidak bertemu dengannya. Terakhir kali bertemu dengannya adalah saat dia meminta tolong untuk membuatkan poster skripsi tentang es krim probiotiknya. Kami mengobrol selama beberapa jam, dan kemudian dia memberi chocolate pralines sebagai tanda terima kasih untuk menemaninya pada jam istirahat waktu itu. Saya selalu menjadi penonton untuknya. Mendengar kisah hidupnya, yang katanya waktu itu dia sedang menulis skrip untuk sebuah film horor dan bukunya akan diterbitkan. Saya mengenalnya sejak kita sama-sama bergelut dengan tugas-tugas kuliah dan praktikum, saat dia sering menulis cerpen dan meminta pendapat saya tentang cerita-ceritanya (FYI, I’m a killer editor for this. I always said he supposed to be a scriptwriter, not a novelist). Terkadang kami saling bercerita tentang masalah pribadi masing-masing,  dimana ada sekelompok orang yang membencinya waktu itu karena sikapnya yang berbeda dengan orang lain. Dia menguasai ilmu dan pengetahuan tentang pangan, membuatnya sering jadi teman diskusi untuk masalah tugas akhir atau penelitian, sekaligus jadi teman curhat yang menyenangkan.  Kepiawaiannya dalam berimajinasi dan merangkainya lewat kata-kata membuat saya terpesona. Dia yang sekarang, menuai hasil dari keberaniannya untuk menggapai impian. Congratulations, my friend.You deserve it.

PS. Beliau adalah writer film “Misteri Hantu Selular”
Advertisements