Negeri 5 Menara

sumber gambar dari sini

Buku ini baru saya baca setelah baca Ranah 3 Warna (ga heran kadang-kadang bingung dengan beberapa flashback yang ada di Ranah 3 Warna). Seperti kata orang-orang yang mereview sebelumnya, buku ini memang bagus. Si pemuda jeruk juga merekomendasikan buku ini untuk dibaca.

Ceritanya adalah seorang Alif Fikri, remaja asal Maninjau, Sumatera Barat yang baru lulus dari madrasah, dan ingin sekali meneruskan sekolahnya ke SMA bersama sahabatnya, Randai. Sayangnya ibu tercinta lebih menginginkan ia untuk masuk pondok pesantren, mendalami ilmu agama. Konflik antara ibu dan anak tentunya, dan pada akhirnya Alif memutuskan mau masuk pondok pesantren, dengan syarat pondok pesantrennya adalah Pondok Madani (PM) di Jawa Timur, yang direkomendasikan pamannya.

Dengan berat hati, ibunya pun melepas anaknya merantau ke Jawa. Alif memulai kehidupan barunya: beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru. Metode pendidikan yang full course dan disiplin tinggi, wajib berbahasa Inggris dan Arab dan tak boleh menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah, mungkin terdengar ala Spartan. Tapi sistem itu jugalah yang membuat para santri tak hanya memiliki ilmu, tapi juga memiliki disiplin, kemampuan orasi dan kepercayaan diri yang tinggi. Kebersamaan, kemandirian, kesetiakawanan, ketekunan, berbagi mimpi dan semangat, pemberian motivasi tiada henti dari pengasuh pondok kepada anak didik, man jadda wa jadda (barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan sukses) , tak hanya diucapkan di mulut semata, tapi juga diresapi dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ranah 3 Warna


Buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara. Rasanya serupa dengan “Sang Pemimpi” dari tetralogi Laskar Pelangi. Bercerita tentang impian dan usaha untuk menggapainya.

Setelah lulus dari PM, Alif ingin melanjutkan cita-citanya untuk kuliah. Masalah pertama: PM tidak mengeluarkan ijazah, jadi ia harus mengikuti tes persamaan SMA untuk bisa ikut UMPTN. Tapi pada akhirnya dia diterima di FISIP Jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjajaran. Masalah selanjutnya: bagaimana bertahan hidup di Bandung dengan kiriman yang pas-pasan, keluarga Alif di Maninjau, sulitnya untuk menembus media cetak, keinginannya untuk menjadi exchange student ke Quebec, Kanada… Cobaan demi cobaan dihadapinya, sampai ia merasa letih dan bertanya-tanya, β€œSampai kapan aku harus bersabar untuk semua ini?”

Ketika Man Jadda Wa Jadda tidak lagi cukup untuk mewujudkan impian, keluarlah mantra kedua man shabara zhafira (siapa yang bersabar akan beruntung).

Maka sebenarnya impian itu bisa terwujud bila mau berusaha sungguh-sungguh dan bersabar tentunya.

Buku-buku ini cocok untuk penggemar tetralogi Laskar Pelangi yang haus motivasi diri πŸ™‚

Advertisements