Pernahkah Anda merasa, kemarin Anda sedih sesedih-sedihnya, tapi ketika Anda membuka mata hari ini, Anda lupa mengapa Anda bisa sesedih itu? Atau bila kemarin Anda bisa tertawa sekencang-kencangnya, hari ini Anda heran apa yang membuat Anda bisa sebahagia itu.

Itulah yang saya alami akhir-akhir ini.

Entah kenapa akhir-akhir ini tanpa disadari saya memiliki memory shredder yang bisa dengan cepat melupakan perasaan sebelumnya.

Saya mengalami perpisahan dengan seseorang yang menemani langkah saya selama lebih dari 500 hari (is it a sequel for 500 Days of Summer? unfortunately no. I didn’t meet a man like Joseph Gordon-Levitt either. LOL)

Apakah saya sedih? Tentu saja. Apakah saya menangis? Sedikit. Justru yang menangis adalah para sahabat begitu mereka mendengar berita ini *hugs tightly*

Justru di saat seperti ini, saya tidak galau seperti biasanya. Pasca perpisahan, saya memang sedikit banyak melamun, tapi tidak ada emosi yang tersisa.

Seolah-olah memory shredder menggerus semua emosi yang seharusnya muncul saat itu. Saya bersenang-senang dengan para sahabat, patah hati kembali, menonton kembali variety show favorit (maaf opat, sudah kecanduan WGM sekarang :p) dan larut didalamnya. Tapi hari berikutnya, emosi kembali ke titik nol, tak bersisa.

Apapun itu, saya percaya ini adalah rencana terbaik-Nya πŸ™‚

Look at it out here, it’s all falling apart. I’m erasing you and I’m happy! (Joel, Eternal Sunshine of The Spotless Mind)

Advertisements