Orang bilang, gantungkan cita-citamu setinggi langit, dan berusahalah sekeras mungkin untuk mewujudkannya menjadi kenyataan.

Itu berlaku untuk mereka yang punya cita-cita dan visualisasi yang jelas.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang bahkan tidak mengerti cita-cita itu apa, yang hanya bisa berpikir makan apa besok, dan bermimpi pun sudah menjadi barang mewah bagi mereka?

Atau bagi mereka yang terlalu realistis (atau pesimis) dan berkata, “Bermimpi terlalu tinggi itu menyakitkan, karena ada hal-hal yang tidak bisa kau ubah, kawan.”

Kalau ada yang berkata begitu, tentu saja ada mereka yang berkata sebaliknya, “Justru bermimpi itu harus dipelihara dan diimplementasikan, kelak, suatu saat nanti, sesuatu yang kamu sebut itu keajaiban sekarang ini berada dalam genggaman tanganmu.”

Mungkin hal yang tersulit adalah memilah-milah, mana mimpi yang pantas dipertahankan, mana yang harus digugurkan, mana yang sudah kadaluwarsa, mana yang bisa bertahan sampai sekarang dan cukup pantas untuk diperjuangkan.

Setiap kali saya iri pada orang lain yang terbang tinggi dan mengembangkan sayapnya, saya selalu ditanya, “Kapan kamu pergi dari sarangmu?”

Karena ini pertanyaan basa-basi, jawabannya adalah, “Kapan-kapan, kalau ada rejeki dan kesempatan. Kalau bukan saya yang menjaga sarang sekarang ini, siapa lagi?”

Iya, itu mungkin juga jawaban defensif, menghindari perdebatan karena masalah sepele. Daripada melawan, saya memang lebih suka diam dan menghindar.

Dan kali ini, saya mempertanyakan kembali mimpi-mimpi yang pernah saya buat tiap kali mengalami iritasi sesaat setiap kali dibandingkan dengan orang lain.

Kemana tujuan saya menyandarkan tangga selama ini? Β 

Benarkah itu mimpi saya yang sebenarnya?

Atau… itu mimpi orang lain yang tidak terwujud dan memilih saya menjadi korban berikutnya?Β 

Advertisements