Kamera, Check! Handphone, Check! Lightstick, Check! Lim Hyuna menggigit-gigit ibu jarinya. Memikirkan barang apa lagi yang seharusnya atau sebaiknya ia bawa. Hari itu hari Minggu pagi namun ia telah berpakaian rapi. Ia bahkan telah mencuci rambutnya, memakai sentuhan bedak pada wajahnya, dan memoleskan pemerah bibir pada bibir tipisnya. Masih berpikir, ia mondar-mandir di dalam kamarnya. Kemudian ia berpikir dan menjentikkan jarinya seperti dalam film-film saat seseorang memiliki ide cemerlang. “Ah ya, Bodoh sekali aku ini. Aku belum menyiapkan uang dan tiketnya!”.

Dengan sigap ia menyambar dompet birunya dan sehelai tiket konser. Bukan tiket VIP atau rock pitt dan memiliki lebih banyak kesempatan untuk bertatap mata langsung dengan idolanya tapi dengan resiko siap menghadapi barisan remaja pemuja idola mereka dan bisa sewaktu-waktu memukulnya dengan lightstick jika ia menghalangi pandangan dengan tubuh tingginya. Tapi itu lebih baik daripada tidak bisa menonton konser sama sekali. Tiket duduk pun tak apa, pikirnya. “Olympic Stadium. I’m coming, baby.”

Dengan jantung yang berdegup kencang, ia menunggu kereta yang akan membawanya ke Olympic Park. Walau sudah mengenakan sweater, ia tetap merasa kedinginan. Salju belum turun, tapi ia bisa merasakan hembusan angin dingin dan kencang menggelitik lehernya. Seandainya saja aku bawa syal merah tebalku yang hangat itu, gerutunya dalam hati.

Di dalam kereta, ia kembali memeriksa barang bawaannya. Dompet, handphone, lightstick, kamera, tiket, dan selembar spanduk yang sudah ia siapkan sejak seminggu yang lalu. Ia sudah berjanji pada seseorang untuk membawakan spanduk dukungan untuknya, karena katanya, “Semua orang pasti datang untuk melihat Ji Yong hyung atau Seung-hyun hyung. Aku takut tak ada yang mendukungku waktu itu”.

Sebenarnya ia cukup pesimis kalau nanti dari tempat duduknya, seseorang yang ia janjikan itu bisa melihatnya. “Daesung Oppa, aku datang“, begitulah bunyi spanduk itu. Terlihat bodoh memang.

 Sahabatnya Seungho bahkan tak habis pikir. Katanya, “Ya! Apa-apaan spandukmu itu? Kau pikir dia mengenalmu? Aku datang? Memangnya siapa kau?“.

Hyuna cemberut, “Aku kan sudah berjanji padanya!“, bela Hyuna.

Ya! Bodoh sekali kau ini! Dia kan mengatakannya pada seantero Korea!“, Seungho protes lagi.

Hyuna tidak menjawab dan hanya memasang wajah bersungut-sungut.

Tak terasa Hyuna telah tiba tepat di depan stasiun. Sudah penuh. Walaupun konser baru akan dibuka 5 jam lagi, tapi sepertinya VIP (begitulah fans dari boyband idolanya ini menyebut diri mereka) sudah bersiap seperti dirinya. Ia menghela nafas panjang. Dengan penuh tekad, ia akan bergabung bersama ribuan fans hardcore lainnya. Namun baru tiga langkah, dari dalam tubuhnya ada sesuatu yang menjerit. Dicarinya satu kedai roti untuk menenangkan perutnya. Ia memilih satu roti coklat dan menuju ke kasir. Dirogohnya tasnya. “Tidak, dompetku hilang“.

Wajahnya pucat pasi. Dua orang di depannya sudah bergerak untuk membayar. Ia memikirkan beberapa rencana. Plan A, langsung pergi begitu saja dan meletakkan rotinya kembali di meja terdekat. Plan B, memohon-mohon pada kasir untuk memberinya pekerjaan untuk mencuci loyang atau apapun untuk membayar rotinya.

Belum sempat ia memutuskan, tiba-tiba ia sudah berada di depan kasir yang tersenyum ramah dan menghitung harga rotinya. “1.200 won,” Hyuna terpaku. Belum sempat ia menjalankan Plan B, sebuah tangan terulur di sampingnya dan menyodorkan uang ke kasir. Orang yang di belakangnya itu berbisik, “Ya! Ceroboh itu ada batasnya!”

Yang Seungho! Kenapa kau bisa ada disini?”

Sebelum aku menjawab, bergeserlah sedikit. Orang di belakangmu juga mau membayar. Ppalli!

Hyuna menurut, dan berjalan menuju meja yang kosong di dekat pintu. Tak lama kemudian, Seungho menyusul dengan sepiring sandwich dan dua gelas kopi susu panas, duduk di hadapan Hyuna. Tanpa kata-kata ia mengunyah sandwich di hadapannya.

Hyuna menatap tak percaya. Sedang apa dia disini? Bukannya dia pernah bilang dia tak suka boyband apapun di seluruh Korea Selatan? Jangan-jangan…

Kau mengikutiku ya?

Seungho nyaris tersedak, buru-buru menyambar gelas kopi di sampingnya. Dikunyahnya sandwichnya sampai habis. Seungho lalu mengeluarkan dompet biru dari sakunya.

Hyuna nyaris berteriak. “Yang Seungho! Bagaimana kau bisa menemukannya?”. Hyuna membuka dompetnya mengecek apakah tiket YG Family Concert masih ada di sana. Dan hampir menangis dirinya ketika mendapati masih ada tiket di sana. Kali ini bahkan ada dua.

Eh? Bagaimana bisa ada dua?”. Hyuna lalu melihat ke arah Seungho yang sedang melihat ke arahnya pula.

Kau sekarang sudah beralih pandangan musik?”, tanya Hyuna.

Ditanya seperti itu, ia tidak menjawab. Kemudian dari tas ranselnya dikeluarkan selembar spanduk. Hyuna tampak terkejut. Dengan santai, Seungho membuka lipatan spanduk tersebut. Terbaca di sana, “Lim Hyuna, Aku Datang”.

___________

Note :

–       Hyung : panggilan seorang laki-laki kepada laki-laki yang berusia lebih tua

–       Oppa : panggilan untuk kakak laki-laki/laki-laki yang dianggap kakak/idola oleh perempuan

–       Ppali! : cepat!

Tulisan Kolaborasi : Evillya dan OpatHebat

Sebenarnya tulisan ini dimuat dalam rangka memeriahkan #20HariNulisDuet dengan Opat, dimana Opat sedang mencari teman yang berbeda setiap harinya untuk project tersebut. Kok ya pas partnernya saya temanya itu “komitmen.” *ngakak gulung-gulung* Dalam 2 jam dengan spontan kami bergantian menulis fiksi ini tanpa mendiskusikan apa yang mau ditulis terlebih dahulu. Seru kan? 🙂

Advertisements