Countdown for going 25 years old. Yeah I’m that old. Walau belum ada keriput di wajah dan jerawat masih muncul semena-mena tiap bulan, tapi sekarang saya cukup malu untuk menyebutkan umur di depan kenalan anak sekolah atau kuliah. “Twenty something,” menjadi kalimat pamungkas. Dengan begitu saya masih bisa mengakrabkan diri dan santai dipanggil dengan nama langsung oleh orang yang lebih muda 10 tahun dari saya. Berumur sekian dan akan bertambah nantinya, kerutan di wajah, fisik yang semakin menua, pekerjaan yang itu-itu saja, dan entah kapan menikah (yeah, I heard you) bukan hal yang masuk kategori menakutkan bagi saya.

Apa yang saya takutkan?

Tidak bergerak kemanapun. Move on itu bagian dari hidup, mestinya, dalam segala hal. Bergerak itu yang menandakan kita masih hidup dan punya daya untuk merubah dunia. Dulu saya begitu takut untuk memulai banyak hal. Belum waktunya, batin saya. Digertak sedikit saja sudah menciut, mikir susah sedikit sudah menyerah. Saya memang tidak seambisius itu πŸ™‚

Dan dari hal-hal yang tidak saya lakukan sebelumnya, muncul pertanyaan yang semakin lama semakin terdengar nyaring.

Kapan kamu mau berubah? Kapan kamu berani melangkah?Β 

Nah, saya hanya bisa tertegun. Tidak mungkin saya berdoa agar terjadi kecelakaan yang membuat saya amnesia dan memulai segala sesuatunya dari awal. Jadi saya cuma bisa menghela napas panjang, dan kembali menikmati secangkirΒ caramel macchiato hangat. Moga-moga manisnya bisa menawarkan pikiran-pikiran pahit yang mengendap sebelumnya. Semoga.

 

Caramel Macchiato. Chill and relax.
Advertisements