Kamu dimana?

Pesan singkat sudah kukirim 15 menit yang lalu, tapi sampai sekarang belum ada balasan. Nada sibuk terus muncul tiap kali aku melakukan panggilan keluar. Kabar terakhir yang aku terima dari satu jam yang lalu, dia akan sampai di bandara dalam kurun waktu 30 menit. Tapi sampai sekarang aku tak melihat tanda-tanda kehadirannya.

Tsk. Mestinya aku menolak saat ia mengajak bertemu.

Hari ini aku berjanji untuk menemui seseorang. Seorang teman baik yang kukenal saat aku masih di sekolah dasar, dan baru bertemu lagi di sebuah forum alumni dalam jejaring sosial. Aku bahkan lupa bagaimana wajahnya. Dia sendiri tidak mau berbagi seperti apa wajahnya sekarang. Kucari ke seluruh album foto yang ia punya di jejaring sosialnya, tapi tak ada satupun sepotong wajah yang familiar di ingatanku. Satu-satunya yang aku ingat dari dia adalah kepalanya yang botak, matanya yang segaris dengan pipi bulat yang menggemaskan. Tapi aku sendiri meragukan ingatanku, apakah itu memang dia atau bintang film anak-anak di televisi yang sering aku tonton dulu. Pikiranku kembali melayang pada percakapan seminggu yang lalu.

”Kenapa kau ingin tahu aku yang sekarang?”

“Kamu ini aneh. Wajar dong kalau teman lama ingin tahu bagaimana rupamu sekarang. Atau jangan-jangan kau habis operasi plastik ya?”

“Tsk. Kalaupun aku operasi plastik, tak ada ember atau gayung yang cocok, Key. Itu masalahnya.”

“Jadi, apa masalahnya?”

“Hemm… tak ada. Aku lebih suka kau tahu saat kita bertemu langsung.”

“Kapan?”

“Bulan depan aku akan kembali ke Surabaya. Temui aku di bandara ya.”

“Tunggu! Kenapa kau tidak langsung memberi fotomu biar aku bisa langsung mengenalimu?”

“Hey, memangnya seru jika kita bertemu biasa? Aku juga sudah lupa bagaimana rupamu selain gigi kelinci dan rambutmu yang dikuncir dua. Mari menebak dengan intuisi masing-masing. Jika memang takdir menginginkan kita bertemu, bukankah itu kebetulan yang menyenangkan?”

“Cih. Kau terlalu banyak membaca novel romantis! Setidaknya beri aku satu petunjuk!”

“Hahaha. Kau benar. Jika aku bertemu denganmu, aku akan memberikan permen mint kesukaanku.”

“Apa-apaan itu? Tidak mau!”

Dengan cepat aku mengakhiri pembicaraan di ponsel. Aku menunggu beberapa saat, berharap dia akan berubah pikiran. Tapi dia hanya mengirimkan pesan dengan isi sebuah titik koma dan kurung tutup. Walau begitu, pada akhirnya aku pun mengiyakan saat dia bilang ingin bertemu denganku bulan depan. Rasa penasaran ini bisa membunuhku pelan-pelan.

“Masih belum ada kabar juga?”

Aku menoleh. Seorang pria berkulit putih, dengan mata segaris dan berkacamata berdiri di sebelahku. Senyumnya membuat hatiku sedikit berdebar. Kalau aku berada di dunia fantasi, saat ini aku melihat hujan kelopak bunga mawar yang berkilauan di sekelilingnya.

Apakah itu dia? Ah mana mungkin dia seganteng itu.

Aku mengangguk dan tersenyum canggung, menunduk setelah beberapa detik menatap wajahnya. Dia pasti memperhatikan aku yang dari tadi duduk dan berdiri, terus-terusan memandang layar ponsel dan terlihat sebal setengah mati. Biasanya aku tak akan menanggapi jika ada orang asing yang menyapa walau hanya sekedar basa-basi. Tapi entah kenapa kali ini aku merasakan ada sesuatu yang membuatku ingin memulai suatu percakapan yang bermutu.

“Hari ini cerah ya.”

Oke. Pembukaan yang sangat bermutu. Sudah jelas-jelas awan gelap menggelayut di langit, bisa dipastikan tidak lama lagi akan turun hujan.

Hari ini cerah? Lepas dulu kacamata hitammu, nak.

Pria itu tersenyum lebar, memamerkan gigi rapinya. Kali ini tiba-tiba dia terlihat seperti bintang iklan pasta gigi yang kilaunya bisa menembak jatuh setiap hati wanita yang memandang. Oke, imajinasiku kelewatan.

“Aku rasa sebentar lagi hujan. Tapi setelah itu pasti cerah.”

Aku bisa menangkap rasa geli dalam nada suaranya, tapi kulihat dia memang sungguh-sungguh saat menerawang ke langit. Aku pun ikut mendongak ke langit, menatap awan kelabu yang mulai menurunkan gerimis. Tiba-tiba pria itu berjalan mendekatiku dan menjatuhkan sesuatu di telapak tanganku.

“Keysha kan?”

Aku tertegun dan mengangguk pelan. Kubuka genggaman tanganku. Sebuah permen mint berbentuk hati.

Suatu kebetulan yang menyenangkan.

Sebuah fanfiction pendek pertama dalam beberapa bulan ini, didedikasikan kepada mas Sunny Soon *mimisan pelangi*. Big thanks to Nao & all authors @ Salad Bowl De Trois yang menginspirasi saya untuk menulis fiksi kembali 🙂

Advertisements