re-write from my old post in tumblr. Mendadak sendu setelah mendengarkan “Hujan Siang Itu,” dan sebelumnya adegan-adegan manis film Habibie & Ainun masih terbayang-bayang di ingatan. Aduh Reza Rahardian keren banget ya aktingnya disitu… *hilang orientasi*

— 


Aku tak tahu bagaimana caranya kenangan bekerja, menyusup ke dalam segala hal sepele yang ada di sekitarku.

Aku menemukanmu, di dalam jeruji putih dan bak merah. Aku tersenyum menatap mata-mata bulat dan tubuh berbulu, melahap kuaci dengan riang yang kulemparkan ke tempat makannya beberapa saat yang lalu. Menatap mereka di balik jeruji putih yang membatasi mereka denganku.

Kandang hamster, dengan jeruji putih dan bak berwarna merah. Siapa yang memilihkan itu untukku waktu itu? Lalu aku ingat kamu. Merah itu kamu, warna yang selalu kuanggap itu favoritmu walau kamu mengelak. Kamu yang mau mengantarkanku untuk membeli kandang, serbuk kayu, dan biji bunga matahari di suatu siang yang terik. Dengan hati-hati kamu melepas jeruji dalam kandang, “Supaya mereka bisa bersentuhan langsung dengan serbuk kayunya,” katamu waktu itu, dengan serbuk kayu yang berserakan dan mengotori celana warna krem kesayanganmu. Kamu yang mengajariku bagaimana cara merawat hamster, setengah merengek waktu meminta anak-anak hamsterku kelak untuk menemani hamstermu yang mati beberapa minggu yang lalu.

Aku ingat kamu, yang selalu menemaniku ke mall, kampus, toko buku, atau sekedar makan bakso berdua di bakso langganan. Ibu penjual bakso yang selalu tersenyum ramah tiap kali melihat kita, menyodorkan semangkok bakso yang panas dengan banyak kuah dan sayur, dan kamu yang selalu bergegas mengambilkan teh botol dingin dan membukakan tutupnya untukku, dan kemudian saling berebut membayar terlebih dahulu.

Saat berjalan, dalam siang maupun malam, dalam terik maupun gerimis, kamu selalu meraih tanganku dan menuntunku ke tempat tujuan. Pernahkah kau sadari hal-hal sederhana seperti ini yang selalu membuatku luluh padamu?

Kamu, dulu pernah mau menungguku, walau kita sama-sama tahu, di depan sana hanya ada jalan buntu.

Dalam hujan siang itu, tanpa sengaja aku melepasmu. Aku tak pernah menyangka itu terakhir kalinya aku menatap punggungmu.

Jika kita bertemu lagi, semoga aku bisa mengucapkan kalimat yang sampai saat ini kusesali, tak bisa kuucapkan karena gengsi.

Maaf. Semestinya aku bersamamu lebih lama sebelum kamu pergi. Semoga kamu selalu punya alasan untuk tersenyum.”

Salam sayang,

A.

“Hujan siang itu membawa tanya, mungkin suka, mungkin cinta, mungkin bukan apa-apa.”

(Repertoar Musim Cinta – Bagian I : Hujan Siang Itu)

Advertisements