Setahun yang lalu, aku mengantarkanmu pergi di tengah hujan tangis. Air mataku sudah mengering sebelum yang lain tahu. Biarlah yang mereka lihat hanya ekspresi wajahku yang datar dan kaku.

Mereka memilihkan tempat peraduan terbaik, walau cukup jauh dari rumah. Tak apa, setengah jam perjalanan tak akan terasa jika rindu sudah dalam genggaman. Di tepi jalan setapak, pohon Β rindang menaungi pusaramu bagai payung teduh.

Maaf, aku belum sempat berkunjung lagi untuk mengganti bunga yang pasti sudah mengering. Yang bisa kuandalkan hanya untaian do’a yang terputus-putus dan berharap sampai padamu.

Dari berbagai memori yang kupilih, yang kuingat hari ini adalah sosokmu yang termenung di beranda, hanya mengangguk saat aku pamit bekerja di pagi hari. Kehadiranmu terasa menipis dan aku tenggelam dalam sorot matamu yang sayu.

Jika ditanya apa yang kusesali, mestinya aku menghabiskan lebih banyak waktu hening bersamamu. Aku tak akan mempertanyakan masa lalu, sebagaimana pertanyaan tentang masa depanku tak pernah terluncur dari bibirmu. Karena dalam diam, kita terasa lebih dekat.

Untuk Bapak, yang telah pergi mendahului kami.

Advertisements