1 Agustus

Setahun yang lalu, aku mengantarkanmu pergi di tengah hujan tangis. Air mataku sudah mengering sebelum yang lain tahu. Biarlah yang mereka lihat hanya ekspresi wajahku yang datar dan kaku.

Mereka memilihkan tempat peraduan terbaik, walau cukup jauh dari rumah. Tak apa, setengah jam perjalanan tak akan terasa jika rindu sudah dalam genggaman. Di tepi jalan setapak, pohon  rindang menaungi pusaramu bagai payung teduh.

Maaf, aku belum sempat berkunjung lagi untuk mengganti bunga yang pasti sudah mengering. Yang bisa kuandalkan hanya untaian do’a yang terputus-putus dan berharap sampai padamu.

Dari berbagai memori yang kupilih, yang kuingat hari ini adalah sosokmu yang termenung di beranda, hanya mengangguk saat aku pamit bekerja di pagi hari. Kehadiranmu terasa menipis dan aku tenggelam dalam sorot matamu yang sayu.

Jika ditanya apa yang kusesali, mestinya aku menghabiskan lebih banyak waktu hening bersamamu. Aku tak akan mempertanyakan masa lalu, sebagaimana pertanyaan tentang masa depanku tak pernah terluncur dari bibirmu. Karena dalam diam, kita terasa lebih dekat.

Untuk Bapak, yang telah pergi mendahului kami.

Advertisements

2 thoughts on “1 Agustus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s