Buat saya, lebih mudah menulis selagi ingatan masih segar, hangat, muncul banyak rasa untuk diungkapkan.

Jika saja saya menulis kesan tentang film Inferno dan Doctor Strange tepat setelah selesai menonton di bioskop, saya akan bercerita dengan penuh emosi soal Inferno atau penuh pujian dan cekikikan disana-sini soal Doctor Strange.

Tapi yah daripada jadi mimpi buruk karena terus-terusan ada di to do-list, inilah apa yang masih tersisa di benak saya soal film-film itu.

mv5bmtuznte2ntkzmv5bml5banbnxkftztgwmdazotuymdi-_v1_ux182_cr00182268_al_

Inferno – Tidak ada yang salah dengan Tom Hanks, yang selalu keren di film-film yang pernah saya tonton sebelumnya. Tidak ada yang salah juga dengan lokasi syuting yang wah-keren-tapi-hanya-kelihatan-3-detik-sebelum-ganti-lokasi-lagi. Kesalahan saya adalah saya mendambakan plot cerita yang sejalan dengan novelnya, halus dan tidak terkesan buru-buru. Inferno disini seperti potongan-potongan dramatis dalam novel yang dimampatkan dalam 2 jam. Ada beberapa bagian yang tentunya dipelintir, disajikan dengan ending yang konvensional.

doctor_strange_poster

Doctor Strange – Sherlock Holmes vs Hannibal dengan-smokey-eyes-ala-pocong, dalam plot cerita ala Marvel – visual action keren dengan plot cerita yang lempeng ga ada twistnya. Tapi tetap saja, saya suka banget Doctor Strange karena:

  1. Karakter Doctor Strange yang sebenarnya serupa dengan Sherlock: arogan nyebelin tapi bikin gemes pingin nabok + melontarkan lelucon di sana-sini dengan muka datar. Yes, this guy is a douche-bag, kaya Tony Stark juga.
  2. Porsi drama, action, komedinya pas, berada di tempat yang tepat, nggak ngganggu sama sekali.
  3. Penyelesaian konflik yang fresh menurut saya. “Dormammu, I’ve come to bargain.” itu bikin cengengesan.
  4. Post-creditnya bikin greget.
  5. Bias. Karena saya menyukai Benedict Cumberbatch maupun Mads Mikkelsen. Titik.   f74d8549d958c9d743e7a2bede2f591e

Jadi begitulah, film apa yang kamu nikmati akhir-akhir ini?

Advertisements