Unpretty Journal

Saya punya banyak buku catatan. Mulai dari diary menye-menye jaman sekolah, binder yang isinya kata-kata bijak, catatan kuliah dan ide-ide untuk PKM, catatan keuangan (yang terlupakan setelah 7 hari).

Sekarang, buku catatan lebih banyak saya gunakan untuk mencatat to-do list, daftar belanja, pekerjaan kantor, info penting (seperti cara minta surat rujukan dan prosedur menebus obat pakai BPJS). Kadang nyelip catatan uneg-uneg, bucket list, wishlist item, resep masakan ibu mertua, komik dan TV seri yang ingin dibaca dan ditonton.

Memang sih, sudah ada teknologi yang memudahkan, seperti Evernote, tapi tetap saja rasanya lebih greget untuk menulis acak-acakan dan mencoretnya di buku. Ide-ide juga lebih mudah keluar waktu menulis pakai tangan. Yes, it’s unpretty and I’m proud of it.

Jpeg

Kemudian, saya pernah lihat selintas di Instagram soal bullet journalBullet journal ini sudah ada sekitar tahun lalu, tapi saya hanya sekedar scroll-and-love, tidak ada niat untuk mencobanya.

Bullet journal sounds too fancy for lazy potato. It’s like a witch-craft, so beautifully organized, flawless and instagram-able. Unlike mine. I love cute and beautiful journal cover, but that’s it.

Saya tidak bisa menulis lurus di kertas polos tak bergaris, sering salah tulis, dan tentu saja, mencoret pekerjaan yang selesai dari jurnal itu menyenangkan sekali. Rasanya seperti distempel di jidat: Infinite points, you worked very hard!

8ca96b1760e2d091ff61ff834ea19311

Walaupun keder, tapi bukan mustahil untuk buku berikutnya, saya mencoba konsep bullet journal. Konsep future log, monthly log, daily log yang lebih sistematis, mungkin bisa mendorong saya untuk mau berpikir lebih jauh, di luar zona nyaman saat ini. Pada saat itu tiba, berdayakan kembali pulpen warna-warni, post-it neon, pensil warna, dan cat air yang menunggu di kotak ATK 😀

Advertisements

4 thoughts on “Unpretty Journal

  1. Beli stationery-nya bolehlah mampir ke toko kita, Kakaaak =))))

    Ih aku sering banget tuh nyoba-nyoba begituan, jurnal sok agak cantik. Bubar! Wis emang gak iso ngono lah. Mbalik urak urek di kertas bekas.

  2. Tolong DM katalognya ya sis 😂
    Jurnal sok agak cantik paling bertahan seminggu ya. Tapi kalo urek urek di kertas bekas kalo kebuang ga ketauan 😂

  3. saya punya notebook. bertahun-tahun cuman jadi pajangan di rak buku, jadi perawan tua :v

    gara-gara secret agent syndrom, saya jadi males nulis di kertas. kalo terpaksa nulis, biasanya ujung-ujungnya bakal saya sobek-sobek jadi ukuran kecil lalu saya buang

    lebih enakan nulis digital. karena blogposts saya biasanya saya baca kembali, lalu beberapa saya hapus. sama dengan instagram dan twitter. reread and del :v

    1. Secret agent syndrome? Justru malah ga suka cara menulis manual ya? Saya malah kurang sreg dengan cara digital. Kebanyakan nonton CSI cyber & Person of Interest :))
      Kalau bener-bener lagi butuh nyampah dan ga bawa buku, akhirnya nyampah di twitter/blog yang digembok :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s