Search

Pandora Heart

I'm not trying to hide anything. It's just that I don't want to see.

Author

evillya

Mercurius. Mind wanderer. Regularly struggle with balancing different personas.

Unpretty Journal

Saya punya banyak buku catatan. Mulai dari diary menye-menye jaman sekolah, binder yang isinya kata-kata bijak, catatan kuliah dan ide-ide untuk PKM, catatan keuangan (yang terlupakan setelah 7 hari).

Sekarang, buku catatan lebih banyak saya gunakan untuk mencatat to-do list, daftar belanja, pekerjaan kantor, info penting (seperti cara minta surat rujukan dan prosedur menebus obat pakai BPJS). Kadang nyelip catatan uneg-uneg, bucket list, wishlist item, resep masakan ibu mertua, komik dan TV seri yang ingin dibaca dan ditonton.

Memang sih, sudah ada teknologi yang memudahkan, seperti Evernote, tapi tetap saja rasanya lebih greget untuk menulis acak-acakan dan mencoretnya di buku. Ide-ide juga lebih mudah keluar waktu menulis pakai tangan. Yes, it’s unpretty and I’m proud of it.

Continue reading “Unpretty Journal”

Sepuluh Tahun

Sepuluh tahun berlalu, terlalu banyak memori tersimpan, terlalu banyak kenangan terlupakan.

Jatuh bangun berkali-kali.

Membenci dan memaafkan.

Pemakaman tanpa air mata.

Bunga mawar yang tak sempat terbeli.

Prioritas menggunakan uang dan waktu sudah berubah sejak sepuluh tahun yang lalu.

Ada yang berubah.

Terlalu sering saya tenggelam dalam rutinitas. Saya tak lagi menulis untuk mengosongkan pikiran. Saya memilih berkeluh kesah dengan orang tersayang, atau konfrontasi langsung dengan orang lain jika ada sesuatu yang tidak beres. Catatan harian berganti catatan anggaran keuangan tiap bulan. Tempe goreng dengan sambal bawang sekarang menjadi menu yang selalu saya nantikan.

Ada yang tetap sama.

Saya masih sering sulit tidur jika ada pikiran yang mengganggu. Saya masih suka main games online dan baca komik. Saya sedang ‘menekuni’ ritual skincare Korea dan memilah tahapan mana yang bisa disesuaikan dengan tipe kulit saya. Jajan saya sekarang nggak cuma makanan, tapi juga skincare :))

Kalau kamu, apa yang berubah setelah sepuluh tahun?

That’s all I have to say. That’s all I need to know.

(John Watson, His Last Vow)

 

And here we are, celebrate the 3rd anniversary by playing Ragnarok Online

Kacang Merah

Saya punya beberapa cerita soal kacang merah.

Yang pertama, waktu kecil saya punya kebun kacang mini di belakang rumah. Kacang merah, adalah salah satu kacang yang tidak pernah dikonsumsi di rumah, tapi saya suka banget nanem itu karena gampang tumbuh dan cepat panen. Biji kacang saya panen buat main dakonan :)) Kebun kacangnya sendiri sudah dibabat habis tidak lama sebelum saya pindah rumah. Setelah itu, tidak ada satu tanaman pun yang bertahan lebih dari dua minggu selama saya rawat. I don’t have a green thumb as most plants I planted have died. Baru-baru ini saya beli tanaman hias untuk meja kantor, sudah rajin disiram dan dijemur tapi malah daunnya kuning dan rontok. Partner juga sukses membuat satu kaktus yang tidak berdosa busuk akarnya dalam tempo satu minggu. Fix lah kalau pingin liat bunga-bungaan ke Pasar Bunga Splendid aja ~_~

Yang kedua, saya tidak suka sop kacang merah, tapi saya suka kalau kacang merah diolah manis. Mau dimasukkan dalam es serut, puding, mochi, teh tarik, onde-onde, saya suka semuanya. Saya pernah menghabiskan sekilo kacang merah manis isian sop buah sisa resepsi pernikahan saya dua tahun yang lalu. Seneng iya mual juga iya.

Yang ketiga, semalam kaki saya bengkak seperti anak gajah. Kalau ditekan tidak sakit tapi terasa mengganjal. Kata ibu saya, waktu tidur kakinya diganjal lebih tinggi dan minum vitamin B kompleks. Pagi ini sudah tidak terlalu bengkak, tapi kadang-kadang terasa sedikit nyeri di pergelangan kaki. Saya diberi obat asam urat, lalu mengingat-ingat makan apa kemarin. Saya tidak makan seafood atau semacamnya, tapi bisa jadi ini efek makan es kacang merah dua hari yang lalu ditambah selama dua hari ini setelan kursi kantor terlalu tinggi. Ha.

IMG_20161222_145030.jpg
Es KTT (Kacang Top Ternate) Original. Enak bingit kalo lagi ga sakit

Bulan Desember ini jadi semacam pengingat untuk jaga kesehatan. Sebelum ini, mau secapek apapun kalau sudah ditinggal tidur ya sudah segar lagi. Baru minggu lalu saya cek lab setelah dua minggu demam. Hasilnya trombosit mendekati batas bawah normal, liver bengkak dan positif tipes. Mungkin kombinasi kecapekan, tidak pernah olahraga, dan makan tak teratur. Berhari-hari makan bubur nasi dan bubur oat, minum vitamin dan suplemen seperti makan permen, tidak boleh makan yang pedas-pedas sementara waktu.

Saya telat sadar diri sih, lupa kalau sehat itu mahal. Untungnya ga sampai rawat inap, cukup rawat jalan dan istirahat di rumah.

Kalian juga jaga diri ya. Jangan maraton nonton bibir merahnya Lee Dong Wook Goblin sampai pagi kalau badan lagi remuk *self-reminder*

Cerita Seingatnya : Inferno & Doctor Strange

Buat saya, lebih mudah menulis selagi ingatan masih segar, hangat, muncul banyak rasa untuk diungkapkan.

Jika saja saya menulis kesan tentang film Inferno dan Doctor Strange tepat setelah selesai menonton di bioskop, saya akan bercerita dengan penuh emosi soal Inferno atau penuh pujian dan cekikikan disana-sini soal Doctor Strange.

Tapi yah daripada jadi mimpi buruk karena terus-terusan ada di to do-list, inilah apa yang masih tersisa di benak saya soal film-film itu.

Continue reading “Cerita Seingatnya : Inferno & Doctor Strange”

[Kuliner] Ada yang Baru di Kirin!

Semuanya berawal dari sebuah pesan di Whatsapp (2/9/2016), dari tempat makan kesayangan, Kimbap Rina (Kirin). Kok tanggal 4? Apakah ini pesta ulang tahun untuk saya? *ge-er kamu!*

WhatsApp Image 2016-09-02 at 10.17.46 AM

Continue reading “[Kuliner] Ada yang Baru di Kirin!”

WIP-Finished

Terlalu banyak distraksi, tak ada ruang untuk menyendiri.

[20 September 2016]

Finally. 

1 Agustus

Setahun yang lalu, aku mengantarkanmu pergi di tengah hujan tangis. Air mataku sudah mengering sebelum yang lain tahu. Biarlah yang mereka lihat hanya ekspresi wajahku yang datar dan kaku.

Mereka memilihkan tempat peraduan terbaik, walau cukup jauh dari rumah. Tak apa, setengah jam perjalanan tak akan terasa jika rindu sudah dalam genggaman. Di tepi jalan setapak, pohon  rindang menaungi pusaramu bagai payung teduh.

Maaf, aku belum sempat berkunjung lagi untuk mengganti bunga yang pasti sudah mengering. Yang bisa kuandalkan hanya untaian do’a yang terputus-putus dan berharap sampai padamu.

Dari berbagai memori yang kupilih, yang kuingat hari ini adalah sosokmu yang termenung di beranda, hanya mengangguk saat aku pamit bekerja di pagi hari. Kehadiranmu terasa menipis dan aku tenggelam dalam sorot matamu yang sayu.

Jika ditanya apa yang kusesali, mestinya aku menghabiskan lebih banyak waktu hening bersamamu. Aku tak akan mempertanyakan masa lalu, sebagaimana pertanyaan tentang masa depanku tak pernah terluncur dari bibirmu. Karena dalam diam, kita terasa lebih dekat.

Untuk Bapak, yang telah pergi mendahului kami.

[Kuliner] Kimchi Story Malang

Di Malang, kedai atau kafe dengan tema makanan Korea Selatan sudah mulai menjamur. Menunya pun ga melulu kimbap atau tteokpokki yang dijual di bazaar event. Harganya pun bervariasi, mulai dari sepuluh ribuan sampai lima puluh ribuan atau lebih, tergantung jenis makanannya.

Salah satu kafe baru yang kelihatannya menarik untuk dicoba adalah Kimchi Story. Dilihat dari feeds di Instagram, menunya cukup bervariasi, tidak hanya jajanan seperti tteokpokki atau kimbap, tapi juga menu berat seperti bibimbap dan beef bulgogi.

Continue reading “[Kuliner] Kimchi Story Malang”

Up ↑